.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Sepi Di Dunia Yang Ramai


Beberapa tahun lalu saya mengantar tamu ke sebuah candi di Magelang yang tempatnya cukup terpencil. Setelah turun dari mobil, kami masih harus berjalan kaki mendaki bukit yang sepi. Sama sekali tidak ada orang lain, dan tidak ada suara apapun. Tidak ada suara mobil, tidak ada suara orang berbicara, tidak ada suara pesawat udara atau yang lain. Sepi.

Rasanya aneh, biasa hidup di kota yang bising, tiba-tiba berada di tempat tanpa suara. Namun di tengah kesepian itu, ada suara-suara lain yang berbicara. Suara daun diterpa angin, jangkrik bernyanyi, kepak sayap burung, dan suara nafas kami.  Ternyata, sepi juga punya suara, tetapi tidak pernah kita dengarkan karena ada suara-suara lain yang lebih keras.

Setiap hari kita dibombardir oleh kesibukan, komunikasi tanpa henti, suara bising, entertainment, dan berbagai stimulasi yang memenuhi pikiran kita.  Sekali-kali, kita perlu mengambil waktu berhenti dan berdiam diri.  Pergi ke tempat yang sepi untuk menyendiri dan melakukan perenungan, mendengarkan suara yang lain, suara dari dalam diri yang hanya terdengar bila kita menyepi.
Tetapi tidak banyak orang yang bisa berdiam diri. Bagi mereka lebih mudah sibuk daripada diminta untuk berhenti, diam, merenung dan berdoa.  Bahkan ketika mereka diam, mereka mengenakan headphone dan memasang musik biar tidak sepi. Sepi menakutkan karena membuat seseorang merasa sendirian.  Sepi membuat orang cemas karena ia harus menghadapi dirinya sendiri, pemikirannya, kekhawatirannya, dll.  Padahal justru ketika sepi, kita bisa memulihkan diri, beristirahat sejenak, mencari inspirasi, dan mendapatkan kesegaran baru.  Sepi membuat kita berpikir, mengevaluasi diri, dan menajamkan fokus. Mari kita diam supaya kita bisa mendengar bisikan Sang Pencipta (Esther Idayanti)

Diam adalah Sumber Dari Kekuatan yang Besar (Lao Tzu)