.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Ketika Anda Berhutang, Anda Menjadi Budak


Menurut data dari Federal Reserve, orang Amerika berhutang kartu kredit sebesar 1 triliun dollar, kalau dirupiahkan ada 16 angka nol! Rata-rata tiap keluarga di Amerika berhutang sebesar $134.643 atau sekitar Rp. 1,7 milyar (breitbart.com; nerdwallet.com). Jangan terkejut dulu, karena berhutang melalui kartu kredit juga menjadi kebiasaan di negara kita. Dalam sebuah “talk show” di radio, seorang penelepon bertanya pendapat saya tentang berbisnis dengan 15 kartu kredit seperti anjuran seminar yang pernah didengarnya. Pendapat saya, lupakan seminar itu!

Kartu Kredit Bukan untuk Berhutang Dan Berbisnis
Karena bunga kartu kredit sangat tinggi. Guna kartu kredit untuk mempermudah transaksi, contohnya bila harus ke luar kota daripada membawa banyak uang tunai, lebih praktis menggunakan kartu kredit. Namun dengan jaminan bahwa sudah ada uang untuk membayar seluruh pembelanjaan kartu kredit tersebut.  Orang lebih gampang menghabiskan uang menggunakan kartu kredit dibandingkan dengan membayar tunai karena kartu kredit berbentuk plastik sehingga saat berbelanja kita tidak merasakan pengeluaran tersebut sampai bulan berikutnya.

Menaikkan Pendapatan Bukan Jawaban
Menurut nerdwallet.com ketika pendapatan naik, ternyata hutang seseorang semakin besar karena orang diberi fasilitas pinjaman lebih besar dan cenderung lebih mudah meminjam!  Yang perlu berubah adalah pola pikir. Bila pendapatan naik, bukan pembelanjaan yang naik, melainkan simpanan atau investasi yang ditingkatkan. “Jangan besar pasak daripada tiang” adalah nasihat kuno yang sangat tepat.
Kata Suze Orman, “Berhutang adalah mengorbankan masa depan Anda untuk keinginan saat ini.” Jadi mari kita ikuti nasihat Benjamin Franklin, lebih baik tidur tanpa makan malam, dari pada bangun pagi dengan hutang! (Esther Idayanti)

Ketika Anda Berhutang, Anda Menjadi Budak (Andrew Jackson)