.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Kerendahan Hati adalah Ujian Pertama Seseorang yang Besar


Seorang anggota Komnas HAM menyindir Menteri Susi Pudjiastuti atas kebijakannya menenggelamkan kapal pencuri ikan, katanya kalau cuma menenggelamkan kapal, orang bodoh juga bisa. Dijawab oleh Menteri Susi di Twitter, "Saya tidak pernah klaim saya pintar. Selama ini yang saya ingat, saya selalu mengatakan saya seorang menteri dengan pendidikan paling rendah.” Jawaban yang sangat cerdas dari seorang yang tidak merasa dirinya pintar. Sebuah respon yang rendah hati, yang hanya bisa keluar dari seseorang yang penuh percaya diri. Paradoks.

Bagaimana kita bisa menjadi seseorang yang yakin akan diri sendiri, tetapi tidak sombong?  Punya rasa percaya diri tanpa menjadi orang yang angkuh?

Apa Fokus Utama Saya?
Apakah untuk membangun “kerajaan dan nama” saya, atau untuk menyenangkan Tuhan?  Siapa yang saya layani, diri sendiri atau Tuhan dan sesama?  Di mana saya letakkan keyakinan saya, pada kemampuan diri atau kekuatan-Nya?  Bila fokus saya pada diri sendiri, tidak heran bila ada yang sedikit menyinggung saya, lalu ego saya terancam runtuh. Sehingga saya terpaksa bereaksi dengan keras: marah, merendahkan orang lain, atau memamerkan apa yang saya miliki. Orang yang sombong seringkali merasa tidak aman (insecure).
Apa yang Bisa Menyinggung Saya?
Ini adalah sebuah test, di area mana saya belum bebas dari rasa “insecure.” Rendah hati didapat bila kita memiliki pandangan yang realistis tentang diri sendiri, bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Tetapi kita bisa punya keyakinan diri yang kuat, bila kita tahu bahwa kita pribadi yang dicintai-Nya (identitas) dan memiliki tugas khusus dari-Nya dalam hidup ini (panggilan hidup). Rendah hati hanya didapatkan dari hasil perjumpaan dengan Sang Pencipta (Esther Idayanti)

Saya Percaya Ujian Pertama Dari Seseorang yang Besar adalah Kerendahhatiannya (John Ruskin)