.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Berani Mati Atau Berani Hidup?


Beberapa minggu lalu ada teman posting seseorang memakai kaos bertuliskan “berani mati” lalu teman yang lain komentar, harusnya “berani hidup.” Saya pikir benar juga. Mati memang mudah, tetapi menjalani hidup itulah yang susah, karena hidup penuh tantangan.

Seorang  tokoh pertelivisian Korea Selatan, Choi Yoon-Hee, dikenal sebagai “Guru Bahagia.”  Ia menulis lebih dari 20 buku tentang kebahagiaan, tapi tragisnya ia mati bunuh diri bersama suaminya! Dalam suratnya ia menulis, “Saya merasa ada yang salah dengan kesehatan saya sejak dua tahun lalu... Saya merasa tidak bisa menahan rasa sakit... Saya minta maaf untuk orang-orang yang memercayai dan mencintai saya.”  Ternyata Choi sudah beberapa kali berusaha bunuh diri, namun selalu diselamatkan oleh suaminya yang memanggil pertolongan darurat.  Choi berani mati, tetapi tidak berani hidup.

Jenis lain, ada orang berani mati tapi tidak berani hidup dengan perbedaan, sehingga ia mati-matian menentangnya dengan permusuhan dan kekerasan. Ada lagi orang yang tidak berani hidup miskin, jadi ia memilih korupsi. Yang lain tidak berani menghadapi kenyataan, lalu ia lari ke narkoba. Ada juga yang tidak berani jatuh cinta, karena pernah disakiti. Hidup butuh keberanian. Mati tidak perlu nyali.

Berani hidup bukan berarti tidak pernah takut, tetapi memiliki kemauan untuk menghadapi kehidupan yang sulit, penuh tantangan, dan kadang harus menghadapi situasi yang tidak mungkin. Seseorang yang berani memiliki kemampuan untuk menghadapi ketakutan, rasa sakit, bahaya, ketidakpastian, intimidasi dan berbagai ancaman lainnya. Satu saja syaratnya, dari dasar hati yang paling dalam, ia percaya bahwa Tuhan menyertainya senantiasa sehingga ia berani hidup dalam keadaan apapun (Esther Idayanti)
Seseorang Dengan Keberanian Dari Luar, Berani Untuk Mati. Seseorang Dengan Keberanian Dari Dalam, Berani Untuk Hidup