.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Wariskan Nilaimu, Bukan Uangmu


Sinetron The Goodwin Games menceritakan tentang wasiat seorang ayah sebesar US$ 23 juta untuk salah satu dari ketiga anaknya yang sudah dewasa namun saling bermusuhan. Syaratnya, mereka mau bertanding dalam beberapa game rancangan ayahnya untuk mengatasi kelemahan mereka dan menyatukan mereka kembali. Kalau mereka bertiga menolak, seorang tak dikenal bersama Elijah akan mewarisi uang tersebut!  Mengajarkan nilai-nilai dari liang kubur bukanlah cara yang tepat.

Ketika ditanya, “Apa yang terpenting yang perlu diwariskan ke generasi berikutnya?” Jawaban teratas dari 74% responden adalah “Nilai-nilai dan pelajaran kehidupan.”  Dan jawaban “Aset finansial atau properti” ada pada urutan terakhir.   Bahkan menurut bankir Chris Heilman yang telah 41 tahun bekerja mengelola keuangan serta warisan keluarga kaya, bila mereka diperhadapkan dengan pilihan untuk mewariskan uang atau nilai-nilai, tetapi tidak bisa keduanya, mereka memilih mewariskan nilai-nilai.

Komunikasikan
Nilai-nilai tidak diserap otomatis, melainkan harus diajarkan dan dipantau pelaksanaannya (coaching).   Karl Pillemer dari Cornell University mengatakan bahwa orangtua harus mengkomunikasikan nilai-nilai pada anak-anak mereka, dan mengajak mereka menghargai fakta bahwa mereka memiliki prinsip-prinsip yang jelas untuk hidup.  Cara yang efektif adalah dengan bercerita. Ceritakan tentang orang-orang yang Anda kagumi, dan mengapa Anda mengagumi mereka. Ceritakan tentang pengalaman Anda ketika diperhadapkan dengan pilihan yang sulit.
Mencontohkan
Produser serial The Goodwin Games, Chris Harris, berkata bahwa mewariskan nilai-nilai bisa menjadi hal yang ‘menakutkan’ karena “Harus melihat pada kehidupanmu sendiri dan bertanya: ‘Apakah saya benar-benar hidup sesuai dengan nilai-nilai yang saya percayai?’”  Teladan bukan “salah satu cara” melainkan “satu-satunya cara.” (Esther Idayanti)

Tujuan Pendidikan Bukanlah Memiliki Pengetahuan Tentang Fakta, Melainkan Tentang Nilai-Nilai