.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Arahkan Marah Pada Masalah, Bukan pada Orang


Sebuah penerbangan dibatalkan, dan seorang staf sibuk mengurus para penumpang yang terpaksa dipindahkan. Seorang pria yang sangat marah memotong antrian, berkata bahwa ia penumpang “first class”  dan memaksa untuk segera terbang. Staf itu menjelaskan dengan sopan dan memintanya mengantri. Pria itu meledak dan berkata, “Apa kamu tidak tahu siapa saya?”  Dengan tenang staf itu mengambil pengeras suara dan mengumumkan, “Ini penerbangan ... di meja 64, ada seorang pria yang tidak tahu siapa dirinya. Kalau ada yang dapat mengidentifikasi pria ini, silakan menghubungi kami.”  Pria ini bertambah marah dan berkata, “Aku pukul kamu!”  Dengan tenang staf menjawab, “Untuk itu Anda juga harus mengantri, Pak.”

Berusahalah mengerti mengapa orang tersebut marah. Kalau Anda bisa jujur melihat bahwa Anda menyebabkan kemarahannya (walaupun sedikit) Anda akan lebih bisa menerima. Kalau ternyata bukan salah Anda, Anda coba memahami mengapa orang itu salah mengerti lalu Anda jelaskan baik-baik tanpa marah.

Kontrol Emosi Anda.  Orang terpancing untuk marah karena merasa “Dia membuat saya marah!” Tetapi sebenarnya, emosi Anda ada dalam kuasa Anda. Anda bisa marah atau bisa diam. Jangan salahkan orang lain.

Mempersiapkan Diri
Riset dari Stanford menyatakan bahwa keadaan seseorang ketika mendengarkan kemarahan menentukan responnya. Jadi, kalau Anda tahu atasan Anda sering “bad mood,” Anda akan mempersiapkan mental sebelum rapat, sehingga kalau ia berteriak atau marah-marah, Anda tidak terlalu kaget.
Biasanya orang yang pemarah memiliki rasa takut, frustrasi, emosi yang terluka atau masa lalu yang pedih. Apa yang ia katakan lebih berupa “emosi” daripada “fakta.” Mendengarkan dengan tenang akan membuat situasi lebih baik dan menguntungkan Anda (Esther Idayanti).

Arahkan Kemarahan Pada Masalah, Bukan Orang. Fokuskan Energi Pada Jawaban, Bukan Alasan (William A. Ward)