.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Terlalu Banyak Tahu Tentang Masa Depan Bukanlah Hal Yang Baik


Setelah posting soal Mama Lemon kemarin, ada yang bertanya "Kalau memang Tuhan yang beri kesensitifan untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi, tapi karunia itu tidak boleh untuk meramal, lalu apa gunanya?" Pertanyaan yang valid.

Sebenarnya "tahu lebih dulu" juga dimiliki oleh para dokter yang bisa menebak kira-kira bagaimana kesempatan hidup pasiennya. Orang tua juga "tahu lebih dulu" berdasarkan pengalaman apa yang akan dihadapi anaknya nanti. Kalau Anda tahu lebih dulu, apa gunanya?

Mendoakan
Kita tahu lebih dulu supaya kita bisa mendoakannya sesuai kebutuhan orang tersebut: untuk hikmat bila ia harus membuat keputusan penting, untuk kekuatan bila ia akan menghadapi tantangan, dll.

Menasihati Dan Mendorong
Godaan terbesar adalah untuk buka mulut, menunjukkan bahwa kita tahu lebih dulu. Padahal belum tentu kita perlu menyatakannya, karena tidak semua orang siap menerimanya. Dan belum tentu persepsi kita juga tepat 100%. Yang bisa kita lakukan adalah memberi input positif contohnya, "Ada baiknya kamu pikir ulang soal ini..." atau seperti seorang dokter, “Mungkin akan sulit, tetapi proses ini menuju penyembuhan Anda...” Yang tahu lebih dulu bertanggung jawab membangkitkan iman, bukan menakut-nakuti. Mendorong orang mencari Tuhan, bukan mencari ramalan atau peramal.

Asli vs Palsu
Tuhan mengetahui semua yang akan datang, dan Ia memberitahu hamba-Nya untuk  kepentingan-Nya. Tetapi Iblis menconteknya, menjadi "ramalan nasib" dan fokusnya untuk keuntungan diri orang itu (bisnisnya, jabatannya, jodohnya dll). Ingat Iblis tidak "maha tahu" jadi tidak ada jaminan bahwa apa yang dikatakan para peramal itu tepat. Seringkali justru ramalan menjadi senjata makan tuan, ketika ramalan yang salah terjadi karena orang mempercayainya  atau “self fulfilling prophecy”. (Esther Idayanti)
Terlalu Banyak Tahu Tentang Masa Depan Anda Bukanlah Hal yang Baik (Rick Riordan)