.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Iman adalah Percaya pada-Nya bahkan ketika Anda Tidak Mengerti Rencana-Nya


“Anak-anak sudah siap ke sekolah, tetapi tidak ada makanan sama sekali,” kata ibu penjaga panti asuhan itu pada George Mueller. Mueller kemudian menyuruh 300 anak itu ke ruang makan, duduk dengan tenang, lalu berdoa bersama berterima kasih untuk makanan pagi itu, walaupun kenyataannya piring mereka kosong. Tidak disangka, tiba-tiba ada ketukan di pintu, dan seorang pemilik toko roti berkata, “Pak Mueller, kemarin malam saya tidak bisa tidur. Saya merasa Anda membutuhkan roti pagi ini. Jadi malam-malam saya bangun dan membuat roti untuk Anda.” Kemudian ada ketukan lagi, ternyata dari penjual susu. Roda keretanya rusak di depan panti asuhan, dan bila menunggu roda kereta dibetulkan, susunya akan basi. Jadi berliter-liter susu dibagikan pada 300 anak panti yang kehausan itu.

Luar biasa bila kita bisa memiliki iman seperti George Muller, tetapi kenyataannya ada orang-orang yang berdoa dengan tulus namun tidak mendapatkan yang didoakan. Apakah iman mereka kurang?

Ada iman jenis yang lain. Iman yang berkata bahwa “Saya akan tetap setia, walaupun Tuhan tidak mengabulkannya.” Ada orang yang sakit berdoa sungguh-sungguh, ia tidak sembuh, tetapi sampai hari terakhirnya ia tetap bersyukur pada Tuhan. Ada orang yang memohon agar suami/isterinya kembali padanya, tetapi itu tidak terjadi. Namun ia tetap setia dengan janji pernikahan itu. Iman mereka bukan iman kelas dua. Mereka beriman bahwa Tuhan tetap bisa dipercaya, walaupun mereka tidak dapatkan apa yang mereka doakan. Kesetiaan mereka tidak goyah karena keadaan. Iman adalah percaya pada-Nya bahkan ketika Anda tidak mengerti rencana-Nya (Esther Idayanti).
Iman yang Sejati Bersandar Pada Karakter Tuhan, dan Tidak Membutuhkan Bukti yang Lain, Selain Kesempurnaan Moral Dia yang Tidak Dapat Berbohong(A.W. Tozer)