.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Apakah Dibenarkan Tujuan Menghalalkan Segala Cara?


Kisah Robin Hood sangat populer baik dalam bentuk dongeng anak-anak, maupun dalam dunia perfilman Holywood. Ia pemanah yang handal dan dianggap pahlawan karena ia merampok orang-orang kaya yang serakah dan membagikan uang tersebut pada yang miskin. Pencuri atau pahlawan?

“Yang penting niat dan tujuannya baik,” itu ungkapan orang yang ingin menghalalkan segala cara demi meraih tujuannya atau mewujudkan niat baiknya, baik dalam urusan agama maupun dunia.  Mereka melakukan apapun yang dibutuhkan, tidak peduli bila hal itu ilegal, tak bermoral, tak beretika atau merugikan orang lain.  Orang berbohong tidak masuk kerja karena sakit, supaya bisa merawat orangtuanya, toh itu berbohong demi kebaikan. Yang lain berkata korupsi tidak mengapa asal hasilnya digunakan untuk amal.  Melacurkan diri karena “kepepet”  butuh uang untuk membiayai hidup anak-anaknya. Apa yang salah dengan filosofi ini?

Sebenarnya ada tiga moralitas yang ada dalam sebuah tindakan: moralitas pelakunya, moralitas caranya, dan moralitas hasilnya. Secara moral, hasilnya baik. Tetapi bila caranya tidak bermoral, ini melanggar hukum Tuhan Sang Maha Benar.  Berarti pelakunya juga menyalahi hukum karakter dan kemahakuasaan Tuhan.  Apakah Tuhan tidak berkuasa memberi makan anak-anak dengan cara-Nya? Apakah Ia tidak mampu memelihara orang miskin tanpa uang korupsi?  Ungkapan “tujuan menghalalkan segala cara” sebenarnya adalah ungkapan ketidakpercayaan pada Tuhan: pada hukum-Nya, pada pemeliharaan-Nya, pada kekuasaan-Nya (Esther Idayanti)
Tujuan Tidak Menghalalkan Segala Cara, Alasannya Sederhana dan Jelas, Bahwa Cara yang Digunakan Menentukan Sifat/Natur dari Hal yang Dihasilkan (Aldous Huxley)