.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Seberapa Banyak yang Anda Butuhkan ?


Leo Tolstoy menulis tentang seorang petani kaya yang tidak puas dengan miliknya. Ia selalu ingin lebih. Suatu hari ia menerima tawaran, dengan sekitar Rp. 200,000 saja ia bisa membeli seluruh tanah yang bisa ia jalani dalam sehari. Syaratnya, ia harus kembali ke titik awal saat matahari terbenam. Esoknya, ia mulai berjalan dengan sangat cepat. Siang hari ia kelelahan, tetapi memaksa berlari. Menjelang sore, ia mempercepat larinya supaya mendapatkan tanah lebih luas. Mendekati garis finish, ia jatuh kelelahan dan beberapa saat kemudian meninggal. Para pembantunya menggali sebuah kubur, 1 x 2 meter panjangnya. Judul artikel Tolstoy ini, “Berapa Luas Tanah yang Seseorang Butuhkan?” 

Pertanyaan yang sama, “Berapa banyak harta yang kita butuhkan?” atau “Berapa besar kesenangan yang kita cari?” Keserakahan membuat seseorang mengambil lebih dari yang dibutuhkan, dengan rakus menghabiskan melampaui batas kewajaran, hingga melukai dirinya.  Keserakahan mengambil tanpa berbagi, bahkan bila perlu menipu dan menyingkirkan orang lain termasuk sahabat sendiri.  Menyedihkan.

Apakah orang kaya selalu serakah? Belum tentu. Ada orang kaya yang memiliki keseimbangan antara memperhatikan dirinya dan menolong sesamanya. Masalahnya bukan harta, tetapi hati. Jadi keserakahan adalah dosa, bukan urusan finansial semata. Keserakahan menekankan yang material, mengabaikan yang spiritual. Istilahnya, ia tidak percaya pada kehidupan setelah kematian, karena itu ia mengumpulkan sebanyak-banyaknya saat ini.  Ia terikat dengan dunia dan kesenangannya. Beberapa orang menjadi serakah untuk menutupi kekosongan dalam hatinya. Biasanya terjadi pada orang yang memiliki masa kecil yang diabaikan. Tapi ini tidak membenarkan keserakahan.
Seperti jurang tanpa dasar, orang serakah berusaha memenuhi keinginannya tanpa pernah puas. Berhenti sebelum Anda terperosok ke dalamnya. (Esther Idayanti)

Kehidupan Tidak Ditentukan Oleh Apa yang Anda Miliki, Bahkan Bila Anda Memiliki Banyak