.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Hanya Tuhan Yang Mengetahui Masa Depan Kita


Saya punya teman yang saya panggil “Mama Lemon” karena ia mirip alm. Mama Lauren sang peramal. Ia memiliki kesensitifan yang lebih tentang hal-hal yang belum terjadi, sebuah karunia dari Tuhan. (Namun ia bukan peramal, tidak mau jadi peramal, dan ia hidup taat pada Tuhan). Saya pernah berada dalam situasi yang membutuhkan keputusan besar, lalu dia berkomentar “Oh, tidak secepat itu.” Dan memang terjadi demikian. Tetapi apakah setelah itu saya bertanya padanya soal ini dan itu? Tidak juga, dan rasanya saya tidak ingin tanya sama sekali.

Menjelang Imlek, orang mencari ramalan. Para peramal mungkin mengetahui “fakta” apa yang akan terjadi, tetapi mereka tidak mengetahui “maknanya.” Kalau seseorang dulu berkata pada saya, “Kamu akan masuk ruang operasi 6 kali,” tentu saya ketakutan setengah mati. Tetapi dalam perjalanannya, operasi-operasi itu memiliki makna yang dalam. Ada operasi yang menjadikan saya sensitif terhadap orang yang mengalami rasa sakit yang hebat. Ada operasi yang membuka mata saya, betapa beruntungnya saya bisa sembuh dari penyakit yang diderita 1 dari 15.000 perempuan. Dan setiap operasi membuat saya bergantung pada Tuhan.

Orang mengejar ramalan karena ingin tahu dan mengontrol masa depannya. Supaya bila tidak cocok, ia bisa memanipulasinya. Tetapi Tuhan menyembunyikannya, karena Ia ingin kita mengalami perjalanan itu bersama-Nya. Ia ingin menjadi tempat kita bergantung, dan menjadi teman saat suka maupun duka. Alih-alih mengontrol masa depan dengan ramalan, kita membawa kekhawatiran masa depan ke masa kini, dan menghilangkan kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan Tuhan (Esther Idayanti)
Karena Tuhan Mengetahui Masa Depan Kita, Kepribadian Kita, dan Kapasitas Kita Untuk Mendengar, Ia Tidak Akan Memberitahu Kita Lebih dari Apa yang Kita Mampu Hadapi Saat Ini (Charles Stanley)