.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Pernikahan adalah 100-100, Bukan 50-50


Suami berpikir, “Enak betul istriku, tidak perlu bekerja, hanya di rumah seharian.”  Istri berkata, “Enak betul pulang tinggal duduk di depan TV, padahal aku seharian kerja keras mengurus rumah tangga, non stop sampai malam.” Apalagi bila istri juga bekerja di luar rumah.  Bukan cuma soal pekerjaan, tetapi soal keuangan dan lainnya, kadang pasangan berpikir, “Ini tidak fair!”

Di zaman hak azasi dijunjung tinggi, orang menuntut “fairness,” termasuk dalam pernikahan.  Kalau dia dapat ini, saya dapat itu. Tentu saja saya akan mengerjakan bagian saya, kalau dia juga mengerjakan bagiannya.  Kita ingin dihargai dan mendapatkan upah untuk kerja keras dan pengorbanan kita. Dan kita takut “dimanfaatkan.” Memang pernikahan bisa pincang bila hanya salah satu pihak yang menanggung dan mengerjakan semuanya. Tetapi tidak ada yang namanya pernikahan yang “fair.”  Kalau pasangan berfokus untuk mendapatkan “fairness” maka keintiman berubah menjadi hitung-hitungan dan kontrak kerja.

Kalau disuruh memilih mendapatkan “fairness” atau pernikahan, saya pilih pernikahan. Soalnya, memang dunia tidak “fair.” Bahkan di badan peradilan pun ada ketidakadilan.  

Daripada hitung-hitungan soal “fair”, lebih baik baca soal Pak Sumardi (73 tahun). Abdi dalem keraton Surakarta yang sudah mengabdi selama 20 tahun ini gajinya hanya Rp. 120.000 per bulan. Apakah “fair”? Sudah tentu jawabnya tidak. Tapi Pak Sumardi tidak memikirkan soal itu, ia berbahagia karena bisa mengabdikan diri pada keraton, dan tidak setiap orang mendapat kesempatan seperti itu.  Kalau kita bisa berpikir bahwa kita diberi kesempatan untuk “mengabdikan diri” pada pasangan dan anak-anak kita, pernikahan akan jauh lebih mudah (Esther Idayanti)
Pernikahan Bukan 50-50. Perceraianlah yang 50-50. Pernikahan adalah 100-100. Bukan Membagi Semua Menjadi Setengah, Tetapi Memberikan Semuanya yang Anda Miliki (Dave Willis)