.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Kesetiaan Tidak Dapat Dipisahkan dari Pernikahan


Ketika Henry Ford dan isterinya merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima puluh, seorang reporter bertanya, “Menurut Anda, apa yang membuat pernikahan Anda berhasil selama 50 tahun?”  “Formulanya,” kata Henry Ford, “adalah formula yang sama dengan yang saya gunakan dalam membuat mobil – hanya satu model saja.” Kesetiaan tidak dapat dipisahkan dari pernikahan. Tanpa kesetiaan, pernikahan tidak akan berhasil.

Riset mengatakan bahwa semakin seseorang memiliki komitmen yang mendalam pada pernikahan dan pasangannya, semakin mereka puas terhadap hubungan mereka, menikmati pernikahan jangka panjang, tidak merasa “terjebak” dalam pernikahan, serta lebih bersedia berkorban untuk pernikahannya. Selain itu, merek cenderung tidak “mencari-cari alternatif” yang lain.

Kesetiaan dalam pernikahan lebih dari sekedar tidak berselingkuh secara fisik, melainkan membangun cinta yang terus-menerus untuk pasangannya. Kesetiaan termasuk setia secara emosional, maksudnya tidak membangun hubungan emosi mendalam dengan lawan jenis untuk memenuhi kebutuhan emosional kita. Shirley Glass, seorang peneliti berkata bahwa perselingkuhan emosi adalah berbagi kehidupan batin (inner self) dengan orang lain, yang seharusnya hanya untuk pasangan kita saja. Kesetiaan lain adalah dalam kemurnian pikiran dan kesetiaan mental, “Pikiranku hanya tertuju padamu.” Maksudnya tidak ada fantasi untuk orang lain, entah itu melihat situs-situs dewasa, atau membayangkan “Bagaimana kalau dengan yang itu?”
Tidak mudah karena butuh komitmen dan usaha. Tetapi banyak keuntungannya bagi diri sendiri: rasa aman, kebahagiaan, kedamaian, kepercayaan diri, pernikahan yang bebas dari skandal, anak-anak yang nantinya memliki komitmen untuk pernikahan, dan percintaan yang lebih romantis dari film Holywood! (Esther Idayanti)


Ketika Anda Benar-Benar Cinta, Kesetiaan Bukanlah Sebuah Pengorbanan, Tetapi Sebuah Suka Cita

image : eharmony.com