.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Jangan Mengulangi Kesalahan Dua Kali


“Mereka yang tidak belajar dari sejarah ditakdirkan akan mengulanginya,” kata George Santayana. Namun tidak sedikit orang yang mengulangi kesalahannya, dan tidak sedikit bangsa yang lupa sejarahnya lalu terlibat kekacauan yang sama. Padahal setiap kali mengulangi kesalahan yang sama, harga yang harus dibayar jauh lebih mahal.  Kesalahan pertama adalah “learning mistake,”  tetapi kesalahan kedua dan berikutnya adalah “stupid mistakes.”

Ada dua jenis orang, yaitu orang yang menjadi lebih kuat dan bijak setelah mencoba dan berbuat kesalahan, tetapi ada yang tidak. Dan hal ini tidak ditentukan oleh besarnya kesalahan.  Sebuah studi dilakukan di antara 500 tahanan. Mereka ditanya bagaimana perasaan mereka tentang kejahatan yang telah dilakukan. Studi ini dilanjutkan setelah mereka dibebaskan untuk melihat apakah mereka melakukan kejahatan yang sama. Ternyata ada dua kategori, orang yang merasa “bersalah” (guilt) dan “malu/terhina” (shame).  “Guilt” adalah “saya melakukan hal yang buruk.” Sedangkan “shame” adalah “saya orang yang buruk.”

Orang yang merasa bersalah (“guilt”) berusaha memperbaiki kelakukannya dan dan tidak mengulangi kesalahannya. Tetapi orang yang merasa “shame” merasa dirinya buruk, sehingga untuk mempertahankan harga dirinya, mereka justru mempersalahkan keadaan atau orang lain. Orang jenis ini tidak belajar dari kesalahannya, sehingga mengulangi kebodohannya.

Jadi, ketika berbuat kesalahan, pisahkan kesalahan dengan harga diri Anda. Lihat kesalahan Anda sebagai tindakan yang bisa diperbaiki. Walaupun memang ada faktor lingkungan atau orang lain, tetapi Anda tetap mengambil tanggung jawab. Di sisi satunya, bila Anda adalah orang yang gemar melempar kesalahan, berhati-hatilah karena Anda akan mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali. Mungkin Anda perlu memperbaiki "self-image" di samping tindakan Anda (Esther Idayanti).
Ketika Anda Mengulangi Sebuah Kesalahan, Itu Bukan Kesalahan Lagi Melainkan Sebuah Keputusan (Paulo Coelho) 

Penulis : Esther Idayanti