.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Tiga Hal yang Bisa Dipelajari Dari Suksesi Seorang Pemimpin


Ada klub paling eksklusif di dunia, yang anggotanya hanya beberapa orang saja, dan bilyuner terkaya pun tak bisa membayar untuk bergabung. Namanya The Presidents Club, anggotanya presiden dan mantan presiden USA. Yang menarik tentang anggota klub ini, mereka tadinya saling menyerang dalam kampanye, tetapi begitu salah satu terpilih, presiden yang tidak terpilih mendukung penerusnya. Yang kita bisa pelajari tentang suksesi kepemimpinan dari mereka:

Diam Adalah Emas (Silence is golden)
Tentang Obama (penerusnya), George Bush berkata, "Ia berhak mendapatkan ketenangan, saya tutup mulut. Saya tidak akan mengkritik dia." Bila Anda memilih penerus, biarkan ia menyelesaikan masalah dengan caranya. Penerus Anda mungkin belum pede. Komentar negatif Anda hanya memperburuk keadaan dan kinerja organisasi.

Emiritus Coach
Semua mantan presiden siap memberikan nasihat bila dipanggil. Johnson memanggil Eisenhower setelah John F.Kennedy dibunuh, untuk berkonsultasi tentang negara dan Vietnam. Clinton menelepon Nixon, bahkan di tengah malam untuk bertanya soal Russia, China, atau bagaimana mengatur Oval Office. Siapkan diri Anda menjadi penasihat khusus, karena Anda paling tahu posisi dan pekerjaan yang Anda kini serahkan pada penerus Anda. Seperti kata Bill Clinton terhadap Obama, "Bila presiden memanggil, saya akan datang, bahkan main golf di musim salju bila ia mengajaknya."
Peran Pembantu
Walaupun para mantan presiden telah pensiun, mereka masih mendukung penerusnya melalui tugas-tugas khusus, terutama untuk bernegosiasi atau tugas sosial, karena mereka sudah mengenal pemimpin di US dan negara lain. Obama mengirim Carter untuk bernegosiasi ke Korut, membebaskan warga negara US yang ditahan di sana. Bush meminta Clinton mengatur penggalangan dana untuk tsunami Asia 2004. Walaupun tidak dalam tugas resmi, Anda masih sangat dibutuhkan oleh penerus Anda.

Seorang Pemimpin yang Menghasilkan Pemimpin Lain Meluaskan Pengaruhnya (John Maxwell) 

Penulis : Esther Idayanti