.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Nikmati Berkat Lebih Dari Beban


Saya masih ingat betapa bahagianya mengendong bayi yang baru lahir itu.  Bayi itu begitu mungil, cantik dan lucu. Ia adalah jawaban doa dan berkat yang besar bagi kami. Tetapi setelah ia lahir, saya hampir tidak pernah bisa tidur tenang pada malam hari. Setiap beberapa jam ia menangis meminta susu. Pernah ganti popok hingga empat kali di tengah malam karena kotor lagi. Kadang rewel seharian bila demam. Bayi cantik itu berkat besar, tetapi juga beban.

Setiap berkat datang dengan beban.  Bila Anda mendapat promosi di kantor, berarti tanggung jawab lebih besar, lebih banyak waktu yang harus dihabiskan di kantor, dan masalah yang harus diselesaikan juga lebih kompleks. Punya uang berlimpah adalah berkat, tapi juga beban karena harus memikirkan investasi dan resiko kehilangan bila ekonomi goncang.  Barang siapa dipercaya dengan banyak hal, daripadanya dituntut lebih banyak hal juga.

Nikmati Berkat Lebih Dari Beban
Punya anak memang berkat, tetapi ada beban untuk menyekolahkan dan membesarkannya. Kalau kita fokus pada “beban” kita kehilangan suka cita untuk menikmati hari-hari bersama anak-anak kita. Fokus pada berkat, bukan beban.

Beban Sebagai Motivasi
Masalah yang lebih besar di kantor memicu kita untuk terus belajar. Anak yang baru lahir menjadi dorongan untuk bekerja rajin demi masa depannya.

Miliki Iman
Bahwa bila Tuhan memercayakan Anda dengan hal yang lebih besar, Ia akan memberi Anda kekuatan dan hikmat yang cukup untuk menanggung semua tanggung jawab dan beban yang datang dengan hal itu (Esther Idayanti)

Dengan Setiap Berkat, Ada Beban yang Menyertai. Jangan Meminta Berkat yang Lebih Besar Kalau Anda akan Komplain Menanggung Beban yang Lebih Besar (Joel Osteen)