.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Mengucapkan Syukur Di Saat Sulit


Ketika putrinya meninggal dalam usia 10 tahun karena lukemia, John Claypool berusaha mengerti untuk melanjutkan hidupnya. Ia mencoba tiga hal. Pertama, ia berkata “Ini memang kehendak Tuhan, saya harus menerimanya.” Tetapi hal ini tidak membantu, karena ia tidak bisa percaya bahwa Tuhan mengirim penyakit lukemia untuk anaknya. Kedua, ia berusaha mencari jawaban secara intelektual mengapa ini terjadi, tetapi tidak ada jawabnya. Terakhir, John mencoba mengucap syukur. Ia menyadari bahwa hidup adalah sebuah hadiah, bukan hak. Ia memutuskan untuk berterima kasih untuk 10 tahun yang mereka jalani bersama, daripada merasa pahit karena anaknya meninggal. Tidak mudah, tetapi ini satu-satunya cara yang berhasil.

Mungkin Anda bertanya, bagaimana saya bisa bersyukur dalam keadaan sakit, atau diselingkuhi, atau ditipu hingga bangkrut? Kita tidak mengucap syukur karena “tertimpa” masalah atau adanya kejahatan di dunia. Tetapi seburuk apapun keadaannya, kita tetap bisa mengucap syukur karena:

Tuhan Memberi Kekuatan Untuk Mengatasi Masalah Saya
Tuhan selalu ada bagi kita, bahkan di saat yang sulit. Bukankah di masa-masa sulit yang pernah Anda lalui, Tuhan membawa Anda melewatinya hingga saat ini Anda masih berdiri?

Rencana Tuhan Lebih Besar Dari Masalah Saya
Walaupun kejadian yang buruk menimpa saya, bila saya tetap setia dan bekerja sama dengan-Nya, hal itu bisa digunakan Tuhan untuk tujuan-Nya yang mulia. Mungkin kita tidak melihatnya sekarang, bahkan nanti sampai kita meninggal, tetapi kita bisa percaya pada hati-Nya.
Mengucap syukur menyembuhkan Anda. Di saat letih, mengucap syukur memberi  semangat. Di saat putus asa, mengucap syukur memberi harapan. Ada bedanya “merasa” bersyukur dan “memiliki sikap” bersyukur.  Tidak harus “merasa” bersyukur untuk dapat mengucap syukur (Esther Idayanti)

Happy moments, Praise God. Difficult moments, Seek God. Quiet moments, Woship God. Painful moments, Trust God. Every moment, Thank God.