.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Makna Hari Pahlawan


Ketika anggota gang mulai menembak secara acak, Zaevion Dobson (15 tahun) hanya punya beberapa detik untuk memilih, lari menyelamatkan diri, atau melindungi teman-temannya.  Ternyata Zaevion memilih untuk melompat ke depan tiga remaja putri yang sedang duduk di beranda sehingga mereka selamat.  Ibu Zaevion sangat berduka kehilangan anaknya yang dikenal baik dan berprestasi itu.  Bila, misalnya, berpuluh tahun kemudian, ketiga remaja putri ini ternyata menjadi pecandu narkoba, mabuk-mabukan, putus sekolah karena hamil di luar nikah, kira-kira bagaimana perasaan ibu Zaevion, “Anakku mengorbankan nyawanya dan masa depannya yang gemilang untuk hal yang sia-sia...”

Di hari pahlawan ini, kita tidak ingin membuat keluarga para pahlawan bangsa berkata, “Ayah/ibu saya telah mengorbankan hidupnya untuk sesuatu yang sia-sia.”  Apa yang mereka perjuangkan?  Bukan untuk kampungnya yang kecil, atau untuk kotanya yang waktu itu hanya dihuni beberapa ribu orang, tetapi untuk sebuah bangsa yang dalam bayangan mereka akan menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, bersatu dan sejahtera.

Kita menghargai para pahlawan dengan menjaga bangsa ini utuh dan bersatu. Hal yang tidak mudah di zaman ini, karena menurut Samuel Huntington (“Clash of Civilization”) identitas budaya dan agama akan menjadi sumber utama konflik akibat orang tercabut dari akarnya, sebagai dampak modernisasi dan perubahan sosial. Padahal di Indonesia ada begitu banyak ras, budaya, agama, dan bahasa.  Kalau Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tidak menjadi pegangan utama, tidak lama negara ini akan terpecah menjadi negara-negara kecil, dengan kekuatan ekonomi kecil, militer kecil-kecil dan pengaruh dunia kecil. Itukah yang kita inginkan? (Esther Idayanti).
Negara Republik Indonesia Ini Bukan Milik Sesuatu Golongan, Bukan Milik Sesuatu Agama, Bukan Milik Sesuatu Suku, Bukan Milik Sesuatu Golongan Adat-Istiadat, Tetapi Milik Kita Semua Dari Sabang Sampai Merauke! (Soekarno)