.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Kadang-Kadang Perlu Berpikir Seperti Anak Kecil


Orang berusaha keras menjadi kreatif dan berinovasi. Sebenarnya tidak sulit, kata para peneliti berpikirlah seperti anak kecil lagi.

Tidak Tahu Malu
Pernah lihat anak kecil menari di depan umum? Ia tidak peduli siapa yang melihat dan tidak pusing apa kata orang, dengan bebas ia menari, berputar, sambil bernyanyi, mengekspresikan dirinya. Tetapi ketika beranjak dewasa, kita mulai berpikir, “Apa kata orang nanti?”  “Apakah ini cukup bagus?” Ketakutan  dinilai orang lain menahan kreativitas kita.  Kita tidak memberi kebebasan bagi diri kita seluas-luasnya.  Para ilmuwan menemukan bawa ketika musisi jazz berimprovisasi, mereka “mematikan” bagian otak yang berhubungan dengan “self-censorship” (sensor diri) dan “inhibition” (menahan diri). Dengan kata lain, ketika mereka mematikan hal itu, mereka berpikir seperti anak-anak.

Imajinasi
Ketika anak-anak bermain, mereka membuat kardus jadi mobil, rumah, lemari, dll. Tidak ada aturan dan batasan bagi imajinasi mereka. Tetapi ini juga berubah ketika kita menjadi dewasa. Imajinasi terhambat oleh dunia nyata. Ketika peneliti di North Dakota State University bertanya pada dua kelompok mahasiswa apa yang akan mereka lakukan kalau ada satu hari libur, salah satu kelompok diminta berpikir seperti anak berusia tujuh tahun. Ternyata jawaban-jawaban mereka jauh lebih kreatif dari mereka yang berpikir sesuai usianya.
Tanpa Batas
Kalau Anda bertanya pada seorang anak apa cita-citanya, berbagai jawaban Anda dapatkan, dari astronot, presiden, sampai putri duyung. Mereka tidak memikirkan halangan, melainkan kemungkinan. Jadi kalau Anda ingin kreatif, berpikirlah seperti anak kecil! (Esther Idayanti)

Setiap Anak Adalah Seorang Artis, Masalahnya Adalah Apakah Tetap Menjadi Artis Ketika Anda Bertumbuh (Pablo Picasso)

Image : www.caehk.com