.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Jangan Pernah Melihat Orang Dari Penampilan Luarnya


Alkisah, seorang pangeran dari persia berpura-pura menjadi orang miskin dengan pakaian sederhana masuk ke sebuah pesta. Ia kemudian ditolak secara halus dengan alasan semua meja telah penuh terisi, sehingga ia keluar dari pesta. Pangeran ini pulang, berganti pakaian, mengenakan jubah kebesarannya dengan benang emas dan perhiasan lengkap, lalu kembali ke pesta. Semua tamu menyambutnya, dan tuan rumah berkata, “Selamat datang, Tuan. Tuan mau makan apa?” Dengan menyindir, sang pangeran membuka jubahnya dan berkata, “Selamat datang jubah terhormat. Apa yang Anda inginkan?”  Lalu ia membuka perhiasannya, menaruhnya di meja dan berkata, “Selamat datang tuan perhiasan.” Sang pangeran memandang tuan rumah dan berkata, “Mengapa tidak kau tanya saja apa yang mereka ingin makan, karena sambutan itu sebenarnya untuk mereka, bukan?”

Masyarakat menaruh nilai yang terlalu besar pada penampilan luar: apa yang mereka kenakan, hasil kerja mereka, berapa besar amal yang diberikan, kesuksesan karir, jabatan dan kecantikan. Media mendikte kita sedemikian rupa. Padahal hal-hal yang terpenting sebenarnya adalah hal-hal yang tidak terlihat oleh mata, seperti: karakter, kehidupan yang autentik, keharmonisan, ketenteraman batin, kekuatan iman, dan kasih.  Namun karena tidak terlihat, dan orang tidak pernah menanyakan pada kita, kita tidak terlalu peduli untuk membangun hal-hal  “internal” tersebut.
Resiko fokus pada hal yang salah adalah kehidupan menjadi superfisial, tujuan menghalalkan segala cara, lalu kita merasa tidak aman, mudah tersinggung, dan ketika kita mendapatkan apa yang kita kejar ternyata tidak ada kebahagiaan sejati di sana. Pastikan kita mengutamakan yang utama, dan menjaga keseimbangan hidup (Esther Idayanti).

Orang yang Tidak Punya "Inner Life" Menjadi Budak dari Lingkungannya (Henri-Frederic Amiel)