.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Ikhlaskanlah Kepergian Seseorang yang Kita Cintai


Terinspirasi dari kematian ayahnya, ilmuwan dari University of Minnesota, Muhammad A. Ahmad, melakukan riset untuk menggunakan Virtual Reality (VR) untuk menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. VR dapat membuat simulasi kepribadian almarhum, “Anda bangun, bersiap kerja, makan pagi dan minum kopi dengan pasangan Anda, lalu melambaikan tangan. Seperti hari-hari biasanya,” kata Ahmad. Bedanya Anda tidak makan pagi dengan pasangan Anda, melainkan dengan simulasi pasangan Anda.  Tapi benarkah itu yang kita inginkan?  Mungkin untuk beberapa saat memang demikian.  Melepaskan orang yang kita kasihi memang sangat sulit. Tetapi apa jadinya bila kita terus “menghidupkan” ia kembali?

Emosi
Bukan berarti melupakannya, tetapi Anda perlu memindahkan investasi mental dan kedekatan emosi dengan almarhum kepada orang lain yang masih hidup, yang dapat membalasnya, entah itu keluarga atau teman-teman. Seseorang yang sudah meninggal tidak dapat meresponi dan menjawab kebutuhan emosi Anda. Bila Anda tenggelam dalam kenangan, emosi Anda akan tergerus terus-menerus, mengakibatkan “emotional breakdown.”

Warisan
Daripada menghadirkan kembali sosok pribadinya, Anda dapat mengingat warisan berharga yang ia tinggalkan selamanya bagi Anda, contohnya: apa yang ia ajarkan dan bagaimana ia membantu Anda menjadi seperti saat ini.
Milik Siapa?
Kematian tidak dapat ditahan dan tidak dapat ditebak.  Tetapi kematian mengingatkan kita pada hal yang terpenting, yaitu dia bukan milik kita. Bahkan diri kita pun bukan milik kita. Melainkan milik Sang Pencipta. Hubungan yang tidak akan terputus oleh waktu, yang harus menjadi prioritas adalah hubungan kita dengan Sang Pencipta, karena suatu hari kita akan kembali kepada-Nya (Esther Idayanti)

Tragedi Kehidupan Bukanlah Kematian Tetapi Apa yang Kita Biarkan Mati di Dalam Diri Kita Selagi Kita Masih Hidup (Norman Cousins)