.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Tiga Alasan Setuju Untuk Tidak Setuju


Walaupun sudah berusaha diskusi, kadang tetap saja berbeda pendapat. Penyelesaiannya: “agree to disagree.” Repotnya, beberapa orang tidak bisa terima perbedaan. Mereka cenderung memaksakan pendapatnya, bila perlu dengan ancaman atau kekerasan. Ini terjadi dalam pernikahan, organisasi, bahkan dalam sebuah bangsa.

Harus Setuju
Orang yang rendah diri menganggap “tidak setuju” sebagai penolakan, lalu ia merasa dipojokkan, dan harga diri mereka jatuh. Ada juga orang yang superior dan egois, merasa bahwa dirinya paling baik dan paling benar, sehingga semua orang harus tunduk padanya. Orang-orang ini tidak bisa merasa “kalah” dalam hidup. Tapi ada juga orang yang tidak sependapat karena mereka belum mengerti masalah tersebut secara keseluruhan. Ini lebih mudah diatasi dengan belajar dan berusaha mengerti.

Tidak Setuju Bukan Bermusuhan
Kita perlu bijak, seringkali keharmonisan lebih penting daripada “saya benar”. Jangan menganggap “tidak setuju” sebagai serangan pada Anda pribadi, itu hanya pendapat mereka. Perbedaan pendapat tidak menghancurkan, cara orang menanganinya itulah yang bisa menghancurkan.

Tidak Setuju Belum Tentu Salah
Pabrik kecap selalu berkata kecapnya nomor satu. Benar atau salah? Menurut dia itu benar, ia memproduksi kecap terbaik supaya laku dipasaran. Kalau menurut selera kita kecap lain lebih baik, bukan berarti pendapat pabrik kecap itu salah. Dari sisi dia, itu benar. Tidak berarti juga kita harus mengubah selera. Terima saja perbedaannya.
Agar pernikahan kita/bangsa ini tetap utuh, tidak ada perceraian, perang saudara, kehancuran, kemiskinan, berbagai kepedihan, kita harus berani “agree to disagree.”  Memaksakan kehendak dengan kekerasan akan memicu kekerasan yang lain (hukum aksi reaksi).  Setiap manusia unik, perbedaan itu baik, dan yang terpenting adalah kita saling mengasihi (Esther Idayanti).

Saya Tidak Harus Setuju Denganmu Untuk Menyukaimu atau Menghormatimu (Anthony Bourdain)

image : wonderpolis.com