.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Menjadi Ateis Lebih Sulit Daripada Menjadi Orang Percaya


Seorang anak muda yang skeptis terhadap Tuhan berbincang dengan seorang nenek, “Aku dulu percaya pada Tuhan, tapi kemudian aku belajar filosofi dan matematika, dan merasa Tuhan hanya omong kosong belaka.” Sang nenek bertanya, “Aku tidak belajar banyak hal, tetapi karena kamu pintar, coba beri tahu aku dari mana datangnya telur.” Dijawab sang pemuda, “Sudah pasti dari ayam.” “Lalu dari mana ayam itu berasal?” tanya nenek itu. Dijawab, “Dari telur.”  Nenek bertanya lagi, “Jadi mana lebih dulu, ayam atau telur?”  Sang pemuda menjawab, “Sudah pasti ayam.” Lalu Nenek bertanya, “Jadi ayam itu ada tanpa telur?” Sang pemuda bingung, “Oh, bukan.  Maksudku, telur terlebih dahulu.” Nenek melanjutkan, “Berarti ada telur yang tidak berasal dari ayam?” Sang pemuda mulai bingung, “Oh tentu ayam duluan.” “Jadi, siapa yang menciptakan ayam yang bertelur itu?” tanya nenek. “Begini anak muda, Dia yang menciptakan telur atau ayam pertama, adalah Dia yang menciptakan dunia. Kamu bahkan tidak dapat menjelaskan keberadaan ayam atau telur tanpa Tuhan, dan kamu berharap saya percaya bahwa kamu bisa menjelaskan keberadaan dunia ini tanpa Dia!”

Selain ayam dan telur, ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab oleh ateisme:

Kalau tidak ada Tuhan, lalu apa makna kehidupan?  Manusia hidup untuk mati?

Tanpa Tuhan, dari mana moralitas berasal?  Sumber nilai moral adalah Tuhan dan Firman-Nya, apa yang benar dan salah. Kalau tidak ada Tuhan, berarti nilai moral relatif tergantung masyarakat atau diri sendiri? Pembunuhan, korupsi, perkosaan relatif?
Menjadi Ateis Lebih Sulit Daripada Menjadi Orang Percaya (Esther Idayanti)

Makin Saya Mempelajari Ilmu Pengetahuan, Semakin Saya Percaya Pada Tuhan (Albert Einstein)