.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Apakah Tuhan itu Sungguh Tidak adil?


Mengapa orang yang menipu saya hidup enak, tidak ada masalah, tidak sakit, jalan-jalan keliling dunia melulu? Mengapa suami/istri yang meninggalkan saya hidup bahagia dengan selingkuhannya, sedangkan saya banting tulang hidup sendiri?  Mengapa seolah Tuhan memanjakan mereka?  Tuhan sangat tidak “fair,” itu tuduhan banyak orang.

Manusia menginginkan “fairness,” orang jahat menderita, orang baik hidup nyaman.  Orang belajar naik kelas, tidak belajar tinggal kelas. Itu baru “fair.”  Tetapi ternyata Tuhan tidak bertindak sesuai dengan aturan “fairness.”  Ia bertindak dengan adil, yaitu memperlakukan sesuatu sesuai dengan standar moral yang benar. Ia adalah hakim yang adil. Keadilan-Nya sempurna. Tetapi keadilan Tuhan tidak bisa didikte dan tidak bisa kita minta diwujudkan saat ini juga, karena Tuhan memperhitungkan kehidupan setelah dunia ini, kekekalan.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar mau Tuhan memperlakukan kita dengan “fair”?  Bila ya, berarti ketika kita berbuat dosa, langsung petir menyambar dari langit. Untunglah Tuhan memperlakukan kita dengan “anugerah” (kasih karunia). “Fairness” adalah mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan. Anugerah adalah memperoleh apa yang sebenarnya tidak layak kita dapatkan. 
Secara “fairness” seharusnya kita tidak ada kesempatan masuk surga, karena semua manusia berdosa. Siapa yang bisa berkata, “Saya layak masuk surga?”  Tetapi Tuhan memberikan anugerah-Nya, pengampunan-Nya, kasih-Nya, dan sangat bersabar dengan kita. Hal-hal itu tidak layak kita dapatkan, tetapi Tuhan memberikannya bagi kita.  Ketika Tuhan membiarkan seorang penipu tetap hidup, itu juga karena anugerah-Nya, menanti orang tersebut untuk berubah. Biarlah kemurahan Tuhan pada orang lain tidak menjengkelkan kita, karena kita juga berharap Ia bermurah hati pada kita (Esther Idayanti).

Tuhan Mungkin Memperlakukan Kita Semua Tidak Sama, Tetapi Ia Tidak Pernah Tidak Adil