.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Seorang Manusia adalah Manusia, Tak Peduli Betapa Kecilnya Dia


Seorang profesor pengajar etika memaparkan sebuah kasus di kelas, “Seorang pria terkena syphilis, dan isterinya terkena tuberkulosis. Mereka mempunyai empat anak, yang satu meninggal, dan yang tiga lagi mengidap penyakit yang tergolong terminal/mematikan. Sang ibu sedang hamil. Apa rekomendasi kamu?” Setelah diskusi yang seru, mayoritas kelas berkata bahwa sang ibu disarankan untuk menggugurkan kandungannya. “Selamat,” kata profesor itu, “Kamu baru saja membunuh Beethoven!”

Menurut WHO, sekitar 40-50 juta janin diaborsi per tahun, atau 125.000 aborsi per hari. Mengapa janin diaborsi? Data dari Operation Rescue menulis alasan aborsi: 21% masalah keuangan, 21% tidak siap bertanggung jawab, 16% tidak menginginkan perubahan kehidupan, 12% masalah dalam hubungan, 11% terlalu muda, 8% anak-anak lain sudah besar, sudah cukup, 3% masalah di janin, kurang dari 1% karena perkosaan/inses, 4% lain-lain.  Kesimpulannya, sebagian besar alasan aborsi adalah kepentingan pribadi sang ibu/orangtua.

Dari sisi medis, seseorang “hidup” bila ada detak jantung atau gelombang otak. Ternyata janin sudah punya detak jantung ketika usianya 18 hari (2,5 minggu), dan gelombang otak dideteksi saat 40 hari (4,5 minggu). Yang mengejutkan, hampir semua aborsi dilakukan setelah minggu ke-7!
Valerie Gatto (Miss Pennsylvania 2014) lahir hasil perkosaan.  Ibunya berkata, “Sesuatu yang sangat buruk terjadi padaku. Seseorang yang jahat melukaiku, tetapi Tuhan memberimu untuk aku.” Saat ini Valerie menjadi motivator untuk membantu para perempuan mengerti bagaimana melindungi diri dari kekerasan. Ia berkata, “Saya percaya Tuhan menempatkan saya di sini untuk suatu tujuan, untuk menguatkan, memberi harapan bahwa segala sesuatu mungkin, dan jangan biarkan situasimu menentukan kehidupanmu.” (Esther Idayanti)

Seorang Manusia adalah Manusia, Tak Peduli Betapa Kecilnya Dia (Dr. Seuss)

Image : www.reference.com