.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Sebagai Istri Hormati Suami Bukan Karena Lemah Tapi Kuat


Sebuah iklan dipasang di kantor militer: “Nikahi seorang tentara. Ia dapat memasak, membereskan tempat tidur, menjahit, dan sudah terbiasa menerima perintah.”  Humor ini menggambarkan model suami ideal bagi beberapa perempuan dominan yang ingin mengontrol rumah tangganya, memegang keuangan, mengatur suami, dan membuat semua keputusan, “Saya harus mengambil keputusan. Saya tidak bisa memercayainya karena ia berulang kali melakukan kesalahan.”

Salah Mengerti
Dalam sebuah perusahaan, hanya ada satu CEO. Dalam sebuah negara, hanya ada satu presiden. Demikian pula hanya ada satu pimpinan di rumah tangga, dan Tuhan memercayakan posisi itu pada suami. Beberapa isteri sulit tunduk karena salah mengerti artinya. Tunduk bukan berarti lebih rendah nilainya, bukan juga berarti boleh diperlakukan seenaknya. Tunduk adalah belajar untuk percaya, menghormati dan saling mengasihi.

Ketakutan
“Bagaimana kalau dia salah mengambil keputusan, bukankah itu akan berdampak pada  seluruh keluarga?” Bisa jadi demikian.  Sebagai isteri kita bisa memberi usulan, tetapi tidak mengambil alih kepemimpinan. Berikan kebebasan bagi suami Anda, walaupun mungkin ia berbuat kesalahan, karena hal itu akan membuat dia belajar untuk lebih bijak, rendah hati, dan bergantung pada Tuhan.  Kebutuhan terbesar seorang pria adalah respek, dan salah satu cara menunjukkannya adalah dengan membiarkan ia memimpin dan memberi ruang untuk berbuat kesalahan tanpa merendahkannya.
Mendominasi vs Menginspirasi
Menjadi isteri memang tidak mudah, kita diminta hormat dan tunduk pada seseorang yang tidak sempurna. Tetapi Tuhan bisa memakai seseorang yang tidak sempurna untuk menyempurnakan karakter kita.  Tugas Tuhan mengubah suami kita, tugas kita menginspirasi dia dengan kasih dan penghormatan (EI).

Sebagai Istri, Aku Memilih untuk Menghormati Suamiku, Bukan karena Aku Lemah, Tetapi Karena Aku Kuat (Fiercemarriage)

Penulis : Esther Idayanti
Image : bossfight.co