.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Uang Bukan Sebuah Motivator yang Baik.


Di sebuah desa hiduplah seorang kakek. Bila sore tiba, anak-anak di desa itu bermain dengan riuh di dekat rumahnya, sehingga kakek ini sangat terganggu. Ia memanggil anak-anak itu dan berkata bahwa ia sangat menikmati teriakan mereka lalu memberi mereka masing-masing Rp. 5000 kalau mereka berjanji besok akan datang lagi.  Anak-anak itu sangat senang dan bertambah ribut. Selama beberapa hari, sang kakek memberi masing-masing anak Rp. 5000. Kemudian ia menurunkannya menjadi Rp. 2000, dan esoknya menjadi Rp. 1000 dengan alasan ia kehabisan uang dan berkata, "Besok main lagi ya."  Dapat diduga, anak-anak kecewa, untuk apa mengeluarkan energi tapi tak dibayar? Esoknya tak satu pun anak datang bermain.

Pelajarannya: uang bukan motivator yang baik. Dan beberapa hal justru menjadi tidak berharga dan kehilangan "fun"nya ketika dibayar!  Mana lebih berharga: pasangan yang menikahi Anda karena cinta, atau seseorang yang menikah karena kontrak dengan biaya tertentu? Mohon maaf, karena itulah PSK menjadi tak berharga, karena ia bisa dibayar. Dan relawan sangat berharga karena dedikasi yang tak terbayarkan.
Para entrepreneur yang sukses juga tidak melihat uang sebagai motivator utama, kerinduan mereka adalah membangun sesuatu yang berkelanjutan. Forbes menulis, John Whitehead partner utama Goldman Sach berkata bahwa motivator utamanya adalah dari pekerjaan itu sendiri. Hakim MA USA, John Paul Stevens, menganggap respek dari orang lain lebih penting dari uang. Demikian juga dengan pelukis dan seniman yang berkarya bukan karena uang. Bukan berarti uang tidak penting dan tidak memotivasi, tetapi mereka yang mengandalkan uang sebagai motivator utama menjadi sangat rapuh, egois dan serakah. Yang lebih utama adalah kebanggan, hubungan, dan perasaan berguna bagi sesama (EI)

Ketergantungan Berlebihan Terhadap Penghargaan Berupa Uang, Selalu Menurunkan Komitmen Emosional (Jon R. Katzenbach)

Penulis : Esther Idayanti