.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Perceraian Bukanlah Obat Dari Pernikahan yang Stres


Setiap pasangan menikah dan berharap untuk bahagia selamanya, tetapi kadang pernikahan menjadi buruk, dan mereka mulai memikirkan perceraian sebagai “jalan keluar.”  Kenyataannya tidak demikian. (Disclaimer: artikel ini tidak untuk membebani mereka yang bercerai atau ditinggalkan pasangannya, tetapi bagi mereka yang sedang “memikirkan” untuk bercerai)

Seorang konselor dalam kelompok “DivorceCare” (kelompok yang menolong orang-orang pulih dari perceraian) berkata bahwa ia berulang kali mendengar, “Kalau saya tahu sebelumnya betapa buruk akibatnya, saya akan berusaha lebih keras untuk menyelamatkan pernikahan saya.  Daripada membayar pengacara, saya akan gunakan uang itu untuk bertemu konselor pernikahan.” Penelitian menunjukkan bahwa setelah satu tahun berlalu, 60% dari para pria dan 73% dari para wanita merasa bahwa mereka telah membuat keputusan yang salah.

Orang berpikir pernikahan berikutnya akan lebih berbahagia. Namun statistik  dari John Gottman mengatakan sebaliknya. Kemungkinan pernikahan kedua gagal adalah 60%. Dan angka ini lebih tinggi lagi bila melibatkan anak-anak, yaitu 70%.  Belum lagi dampak negatif yang tidak bisa dihapus dalam kehidupan anak-anak dari orangtua yang bercerai. Mereka akan menderita, tak peduli betapa “damainya” perceraian orang tua mereka.
Jangan menjadi bagian dari statistik tersebut. Kalau masih ada setitik harapan, rajut kembali cinta yang pernah ada. Pernikahan adalah institusi yang Tuhan bangun, karena itu setiap pernikahan dimulai bersama dengan Tuhan dalam upacara kerohanian. Tuhan ingin kita berbahagia dengan membangun pernikahan sesuai dengan pola-Nya. Apakah orang yang bercerai akan diampuni? Jawabnya tentu saja “Ya”, tetapi biarlah kita bijak menghitung besarnya “harga” yang harus dibayar akibat perceraian itu (EI)

Obat dari Pernikahan yang Penuh Stres Bukanlah Perceraian, Tetapi Pertobatan, Pengampunan, Serta Ketulusan dalam Melayani dan Menyatakan Kebaikan (Gordon B. Hinckley)

Penulis : Esther Idayanti