.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Kebebasan Sejati adalah Bebas dari Rasa Bersalah Dan Ketakutan


Amerika mengaggungkan kebebasan. Kini mereka ingin bebas menggunakan narkoba. Tahun 2014, negara bagian Colorado melegalkan penggunaan narkoba untuk “recreational marijuana”. Kalau Anda berusia 21 tahun ke atas, Anda boleh membeli 1 ons narkoba. Ada permen bernarkoba, brownies bernarkoba dll. Anda juga boleh menanam ganja. Bebas! Tetapi akibatnya ada kenaikan 82% pasien dirawat di RS karena narkoba, kasus narkoba di sekolah naik sebesar 32%, dan kasus kematian karena kecelakaan akibat narkoba meningkat 32%.  Mereka pikir mereka bebas, tetapi ternyata mereka diperbudak narkoba.

Kebebasan/“free will” adalah pemberian Tuhan, sehingga manusia bisa memilih dan memutuskan. Tetapi sebenarnya kita tidak benar-benar bebas. Manusia cenderung menjadi budak dari apa yang mengontrol dirinya. Entah itu narkoba, atau hal lain. Ada orang yang tidak bisa menahan diri untuk tidak makan/ngemil, ia tunduk pada nafsu. Yang lain tidak bisa berhenti melihat situs porno, diperbudak imoralitas. Ada yang tidak bisa berhenti mengejar kekayaan, walaupun hartanya tidak habis tujuh turunan. Bahkan larangan main Pokemon di kantor, di jalan tol dll, menyatakan bahwa ada banyak orang diperbudak oleh game tersebut! “Kalau mau, aku bisa berhenti,” tapi nyatanya tidak berhenti juga. 
Manusia mencari kebebasan, tetapi sebenarnya justru membutuhkan batasan. Kita ingin merdeka, tetapi sebenarnya kita butuh “tuan.” Kabar baiknya, kita bisa memilih siapa tuan kita. Dan “tuan” terbaik tentu saja Tuhan, karena Ia mengasihi kita. Kita benar-benar bebas kalau kita tunduk pada-Nya. Bebas bukanlah kemerdekaan untuk melakukan apa saja semau kita, tetapi kemampuan untuk berfungsi seperti rancangan Tuhan. Dan kemerdekaan sejati adalah merdeka dari rasa bersalah dan ketakutan, seperti yang ditawarkan-Nya (EI)

Tugas Utama Setiap Manusia Bukanlah Menemukan Kebebasannya, Tetapi Menemukan Tuanya (Peter T. Forsythe)

Penulis : Esther Idayanti
image : pixabay.com