.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Jadilah Orang yang Disiplin, Bukan Sekedar Termotivasi


The Biggest Losser adalah sebuah reality show di mana orang berlomba mengurangi berat badannya untuk memenangkan sejumlah uang. Peserta terberat 238 kg dan penurunan berat berat badan terbesar 55 kg. Ternyata setelah show selesai, tidak sedikit peserta yang berat tubuhnya naik lagi, bahkan kembali seperti semula. Apa yang salah?

Dalam show itu tentu saja setiap peserta termotivasi, karena usaha mereka ditayangkan di televisi. Selain itu, selalu ada pelatih yang memompa motivasi mereka. Tetapi motivasi ini hanya sementara. Begitu mereka menyelesaikan show, semua kembali menjadi kehidupan sehari-hari yang membosankan tanpa pelatih yang setiap hari memotivasi.  Motivasi yang sementara ini harus disiasati:

Kaitkan Dengan Identitas
Contohnya tujuan saya bukan “mengurangi” berat badan, tetapi “menjadi” seorang yang sehat dengan berat badan ideal. Saya tidak mau selingkuh bukan karena takut ketahuan, tetapi karena ini membuat saya merasa bersalah dan mengubah jati diri saya nantinya “menjadi” seorang pengkhianat. Saya belajar bukan untuk mengerti subyek tertentu, tetapi “menjadi” seseorang yang berpengetahuan luas.

Kaitkan Dengan Perasaan
Sebagian besar orang bertindak karena tergerak perasaannya, contohnya: menolong karena merasa kasihan. Ternyata orang menunda-nunda karena “bad mood.” Untuk membuat diri Anda “excited”, monitor kemajuan Anda dan rayakan. Beri diri Anda hadiah-hadiah kecil ketika tujuan tercapai. Dan seringlah berkumpul dengan orang-orang yang bersemangat untuk mencapai tujuan yang sama.
Disiplin
Tentunya Anda tidak perlu dimotivasi untuk mandi dan sikat gigi setiap hari. Mungkin waktu masih anak-anak butuh dimotivasi, tetapi setelah menjadi kebiasaan, tidak lagi butuh motivasi. Sikap disiplinlah yang membuat Anda terus melakukannya. Ketika Anda ingin membuat sebuah perubahan, secara perlahan jadikan hal itu sebuah kebiasaan, dan lakukan dengan disiplin (EI)

Jadilah Orang yang Disiplin, Bukan Sekedar Termotivasi

Penulis : Esther Idayanti