.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Jadikan Sebuah Kelemahan Menjadi Kekuatan


Seorang anak berusia 10 tahun memutuskan untuk belajar judo, walaupun ia telah kehilangan tangan kirinya karena kecelakaan. Gurunya judonya melatihnya untuk melakukan satu jurus saja, sehingga ia bertanya, “Sensei, apakah saya tidak perlu belajar jurus-jurus yang lain?” Dijawab oleh gurunya, “Hanya  ini yang kamu perlu kuasai.” Walaupun tidak sepenuhnya mengerti, anak ini belajar dengan rajin, hingga ia bisa mengikuti turnamen judo. Dalam dua pertandingan pertama, ia menang dengan mudah. Pertandingan ketiga agak lebih sulit, tetapi anak ini berhasil memenangkannya dengan satu jurus yang ia pelajari. Ia heran karena tidak menyangka bakal menang. Di babak final, ia berhadapan dengan lawan yang berbadan besar, kuat dan berpengalaman. Awal pertandingan tidak seimbang, sehingga juri menawarkan “time-out” karena khawatir anak itu cedera. Namun sang guru berkata, “Tidak apa-apa, teruskan saja.”  Ketika lawan nampak lengah, anak laki-laki itu menggunakan triknya, dan ia menjadi juara pertama!

Dalam perjalanan pulang, anak laki-laki ini berdiskusi dengan gurunya tentang pertandingan tadi, dan ia bertanya bagaimana ia bisa menang hanya dengan satu jurus saja. Dijawab gurunya, “Kamu menang karena dua alasan. Yang pertama, kamu menguasai satu jurus tersulit dalam judo. Dan kedua, satu-satunya pertahanan untuk gerakan itu adalah apabila lawanmu memegang lengan kirimu.” Kelemahan anak laki-laki ini telah menjadi kekuatannya!
Paul the Apostle berkata, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Maksudnya, ketika kita menyadari kelemahan kita, atau kita merasa lemah dalam himpitan persoalan, maka kita cenderung bergantung pada Tuhan. Sebaliknya, mereka yang merasa dirinya paling pintar, kuat dan kaya, merasa tidak butuh siapapun, termasuk Tuhan. Tidak ada harapan bagi orang seperti itu (EI)

Iman yang Sejati adalah Kelemahan Manusia yang Disandarkan pada Kekuatan Tuhan(D.L. Moody) 

Penulis : Esther Idayanti
image : www.disciplemagazine.com