.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Hindari Hidup Seperti Hukuman Sisyphus


Dalam mitologi Yunani, raja Sisyphus yang dikenal jahat dan licik menentang para dewa di Olimpus. Namun ia kalah dan dihukum. Hukumannya bukan penjara, cambuk, atau hukuman mati, tetapi ia harus membawa sebuah batu besar ke puncak gunung, dan ketika tiba di puncak, batu itu menggelinding ke bawah. Lalu ia harus membawanya kembali ke atas, untuk kemudian menggelinding ke bawah lagi. Begitu seterusnya berulang-ulang selamanya. Tragedi bekerja tanpa makna.

Beberapa orang merasakan hukuman Sisyphus. Riset Gallup di 142 negara menunjukkan  hanya 13% pekerja yang benar-benar terlibat segenap hati (engaged) dalam pekerjaannya, sisanya  merasa tidak puas, tidak merasa pekerjaannya berarti, tidak bertumbuh, tanpa motivasi.  Dan ternyata pencarian arti ini tidak terbatas pada orang yang berpenghasilan tertentu saja. Bahkan orang yang sepertinya telah memiliki segalanya, bisa merasa “kosong” di tengah segala yang ia miliki dan jabatan yang menjulang tinggi.
David Brooks mempelajari para “cleaning service”  di rumah sakit, ada yang berkata bahwa pekerjaan mereka adalah membersihkan lantai, yang lain berkata bahwa mereka menciptakan lingkungan yang aman bagi pasien. Ternyata mereka yang memiliki sikap “melayani” akan merasa lebih bahagia karena mendapatkan arti dalam pekerjaannya.  David Brook mengatakan bahwa karir mirip dengan pernikahan, maksudnya orang tidak memasuki pernikahan dengan bertanya “Apakah saya akan mendapat lebih banyak dari yang saya berikan?  Apakah dalam perhitungan ‘cost-benefit’ saya untung?”  Melainkan Anda masuk ke tempat kerja dengan bertanya, “Siapa yang saya bisa layani?  Dalam bentuk apa saya curahkan cinta kasih saya? Sudahkah saya memberikan semuanya?” (EI)

Tujuan Bukan Tentang Apa yang Kita Lakukan dan Berapa Cepat Kita Melakukannya. Melainkan Mengapa Kita Lakukan dan Bagaimana Kita Melakukannya (Paolo Gallo)

Penulis : Esther Idayanti