.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Bagaimana Kepahitan Mempengaruhi Keputusan Anda


Antonio Damasio membuat penemuan yang mengejutkan. Ia mempelajari orang-orang yang mengalami kerusakan otak di bagian yang mengatur emosi. Mereka normal, tetapi tidak mampu merasakan emosi. Ternyata mereka memiliki kesamaan: tidak dapat mengambil keputusan! Emosi sangat memengaruhi dalam pengambilan keputusan. Dan penelitian lain menyatakan bahwa kesuksesan seseorang tergantung pada kemampuan mengelola emosinya. Kegagalan menghilangkan kepahitan akan merugikan dalam pengambilan keputusan:

Salah Menilai
Pernah dengar, “Semua cewek matre,” atau “Laki-laki memang tukang bohong.” Pendapat semacam ini biasanya dilandasi sakit hati yang belum diselesaikan. Mereka membuat generalisasi, dan keputusan didasarkan emosi yang kuat bukan pertimbangan yang bijaksana. Contoh lain, “Untuk apa beriman, saya pernah ditipu orang yang rajin ibadah.” Ia kehilangan kesempatan merasakan kasih Tuhan karena sakit hati terhadap orang yang mengaku umat-Nya.

Salah Fokus 
Orang kepahitan karena ia menganggap orang lain harus bertanggung jawab atas kepedihannya, “Saya begini karena ulahnya.” Dengan demikian, ia merasa bahwa orang lain yang harus berubah supaya ia dapat mencapai tujuannya. Orang yang kepahitan tidak dapat memikirkan cara kreatif pemecahan masalah. Mereka “problem-focused” dan bukan “solution-oriented.”

Salah Sasaran
“Tunggu tanggal mainnya, akan aku buktikan!” Bukannya mengejar tujuan yang bernilai dan menggenapi panggilan hidupnya, orang yang kepahitan berusaha membuktikan sesuatu atau membalas perlakuan seseorang. Tetapi apakah itu tujuan yang cukup berharga untuk dikejar?
Salah Melihat
Anais Nin berkata, “Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya mereka, melainkan sebagai mana adanya kita.”  Orang yang kepahitan sulit melihat indahnya dunia dan menikmatinya karena tertutup oleh kepahitannya. Jangan biarkan kepahitan mendikte keputusan Anda (EI)

Seorang Yang Penuh Kepahitan Tidak Pernah Menjadi Bijaksana

Penulis : Esther Idayanti