.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Lima Cara Atasi Kebosanan dari Sebuah Pernikahan



Sepasang suami isteri bercerai karena mereka saling berselingkuh di internet. Sana Klaric dan suaminya Adnan, menggunakan nama “Sweetie” dan “Prince of Joy” dan bertemu di sebuah “chatroom.” Mereka menjadi akrab, lalu curhat mengenai pernikahan mereka.  Ketika mereka membuat janji untuk bertemu muka, ternyata pasangan selingkuh di internet adalah suami/isteri mereka sendiri!  Sang isteri berkata, “Saya tiba-tiba jatuh cinta.” Sedangkan Adnan berkata, “Sulit dipercaya bahwa Sweetie, yang menulis hal-hal yang begitu indah, adalah perempuan yang sama yang menikah dengan saya, yang tidak pernah mengatakan hal-hal yang manis pada saya selama bertahun-tahun.”  Kalau saja Sana dan Adnan mempraktekkan apa yang mereka lakukan dalam perselingkuhan mereka ke dalam pernikahan mereka, niscaya pernikahan mereka tidak akan membosankan. Buktinya, mereka saling jatuh cinta di internet!  

Sebuah studi berjudul “The Normal Bar” (2011, The Huffington Post, Reader’s Digest dll) menyatakan salah satu alasan utama perselingkuhan adalah karena bosan. Tetapi Anda tidak perlu masuk dalam jebakan yang mematikan itu, caranya:

Waktu dan Usaha
Lakukan seperti saat pacaran: berikan waktu dan perhatian penuh, ucapkan kata-kata manis dan positif, fokus pada kelebihan dan bukan kekurangan pasangan Anda, niscaya pernikahan Anda akan hidup kembali.

Bersenang-senang, berpetualang dan lakukan hal-hal yang “fun”

Miliki Tujuan Bersama yang lebih dari sekedar membesarkan anak dan mencari uang. Anda berdua bisa terlibat dalam kegiatan sosial dan kerohanian, membagikan hidup untuk mereka yang membutuhkan.

Mengenang
Lihat foto album yang lama, dan bersyukur bagaimana Anda berdua bertumbuh bersama
Kejar Impian
Seringkali kebosanan bukan kesalahan pasangan Anda, tetapi karena Anda sendiri bosan dengan hidup! Wujudkan impian Anda, belajar sesuatu yang baru, dan kejar hal-hal yang Anda inginkan (EI)

Kalau Seseorang Bosan, Biasanya Mereka Bosan Dengan Diri Sendiri (Eric Hoffer)

Penulis : Esther Idayanti