.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Jangan Terlalu Memaksakan Diri Anda Sendiri


Berapa lama seseorang mampu bertahan dalam tantangan, kegagalan, kekecewaan, dan penderitaan? Apa yang menyebabkan seseorang bisa bangkit kembali dan terus berjalan?  Setiap orang dalam suatu saat di hidup ini mengalami masa-masa yang “berat.”  Selama ini kita pikir ketahanan seseorang karena ia memaksa dirinya, seperti seorang petinju yang sempoyongan tapi berusaha menyelesaikan satu ronde lagi, atau seperti seorang tentara yang sudah sangat kelelahan tapi masih berenang di tengah laut. Dalam film, itu nampak “kuat” tetapi dalam kenyataan hidup, konsep “memaksakan diri terus menerus” ini tidak realistis. 

Menurut Anchor dan Gieland, Harvard Business Review, rahasia ketangguhan adalah kemampuan seseorang untuk “recharge” menyegarkan diri/mengisi kembali di tengah perjalanan yang melelahkan. Ngotot dalam keadaan kelelahan hanya akan membuat Anda “burn out.” Riset menunjukkan kurangnya waktu untuk memulihkan diri beresiko kecelakaan kerja, gangguan kesehatan, dan menurunkan produktivitas sebesar 62 milyar US dollar per tahun!

Walaupun sudah di rumah, kadang kita masih memikirkan masalah di kantor, melihat pesan di email dan telepon genggam, lalu tertidur dengan mimpi pekerjaan esok hari. Akibatnya, kita istirahat tetapi tidak menyegarkan diri. Cara yang tepat untuk “recharge” adalah rileks, menonton TV, mendengarkan lagu, melakukan hobi, atau hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Demikian pula saat menghadapi masalah kehidupan yang berat, sempatkan diri melakukan hal-hal yang Anda senangi, ngobrol dengan teman, melakukan retreat pribadi, berlibur atau kegiatan lain yang membuat Anda “keluar” sebentar.  “Recharging” diri Anda secara emosional dan spiritual sangat penting agar Anda dapat menyelesaikan pertandingan hidup ini dengan baik (EI)

Ketahanan Adalah Tentang Bagaimana Anda Mengisi Kembali, Bukan Terus-Menerus Menanggungnya (Achor & Gielan)

Penulis : Esther Idayanti