.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Cinta Sejati Pasti Sanggup Menunggu


Ketika mengambil kelas Communication saat kuliah di USA, saya diminta membuat presentasi tentang topik yang menarik perhatian saya. Saat itu, yang paling menarik adalah kehidupan teman-teman saya, terutama orang Amerika, yang menganut seks bebas. Maklum, saya baru pindah dari kota kecil tempat saya lahir ke negara yang budayanya sangat berbeda.  Saya ingat hari itu hari Valentine, dan saya mengajukan berbagai hasil riset dan penelitian ilmiah tentang bahaya gaya hidup tersebut. Ketika kelas bubar, seorang teman  mendatangi saya dan berkata "Esther, presentasimu membuat saya mengubah rencana Valentine saya nanti sore!"  

Orang berpikir, ini tubuh saya, sepanjang saya menggunakannya tanpa menyakiti orang lain, apa salahnya?  Ia lupa bahwa sebenarnya ia sedang menyakiti dirinya sendiri. Ia berpikir bahwa ia bisa memberikan tubuhnya tanpa memengaruhi jiwanya, tetapi menurut penelitian tidak demikian. Seks bukanlah soal tubuh saja, melainkan soal hormon, saraf dan psikologi. 

Ketika seseorang melakukan aktivitas itu, hormon tertentu dikeluarkan, yang memberikan rasa nyaman, kedekatan dan meningkatkan kepercayaan. Hal ini membuat ikatan di antara keduanya bertambah kuat, dan sebuah memori diukir sehingga peristiwa itu sulit dilupakan. Inilah rancangan Tuhan yang brilian untuk pernikahan!
Tetapi bila dipraktekkan di luar pernikahan, maka yang terjadi justru sebaliknya. Kita melekat dengan seseorang lalu putus, melekat dengan yang lain lalu putus lagi, sehingga kemampuan kita untuk “melekat” menjadi rusak. Perasaan terhubung dan komitmen menjadi lemah. Belum lagi segudang masalah lain: rasa bersalah, ketakutan, rasa tidak aman, rendah diri, dll. Mengapa Anda tidak beri diri Anda sebuah hadiah indah, yaitu rasa damai dan keintiman yang sejati dengan menjaga kemurnian Anda? (EI)

Kalau Itu Cinta Sejati, Pasti Sanggup Menunggu. Kasih itu Sabar.

Penulis : Esther Idayanti