.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Tiga Penyebab Anda Sulit untuk Setia Pada Perkerjaan


Mas Parno sudah bekerja di keluarga kami lebih dari 40 th. Mbak Sujinem bekerja dari single hingga kini ia punya cucu. Salah satu yang bikin kangen mudik adalah masakan si Mbak yang dari kecil sudah saya rasakan.  Tapi mbak zaman sekarang bertahan 1-2 th sudah bagus. Di dunia kerja sama saja. The American Bureau of Labor Statistics melaporkan tahun 2010, orang yang usianya 20 tahunan berganti pekerjaan setiap 2 tahun. Survei PWC menyatakan kesetiaan generasi Milenial terhadap tempat kerjanya lebih rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Pada tahun 2008, 75% orang bekerja pada 2 hingga 5 tempat kerja. Saat ini, di atas 25% orang diperkirakan akan bekerja di 6 tempat kerja atau lebih.

Mengapa begitu sulit untuk setia?  Jangan tanyakan mereka, tapi juga diri kita. Mengapa sulit bertahan di tempat kerja?  Mengapa ulang tahun perkawinan ke-50 kini langka? Mengapa sulit taat pada Tuhan dan setia melakukan perintah-Nya?

Emosi 
Emosi menjadi penyebab pertama mengapa orang sulit setia. Kalau hati senang ia tinggal, kalau sebal ia pergi.  “Orang yang tidak setia adalah mereka yang berkata selamat tinggal ketika jalan menjadi gelap,” kata Tolkien.

“Me Generation” selfie, me, myself and mine. 
Kesetiaan diberikan bila menguntungkan diri sendiri, dan tidak dikaitkan pada tujuan yang lebih besar atau nilai-nilai yang luhur.

Tidak Melihat Mamfaatnya
Setia memang lebih sulit daripada meninggalkan seseorang/organisasi ketika sudah tidak nyaman lagi. Kesetiaan butuh pengertian, kerelaan untuk memaafkan, komitmen bahkan pengorbanan. Tetapi kesetiaan memberikan rasa aman, kestabilan dalam hubungan, kesempatan bertumbuh bersama, dan kepercayaan. Mario Puzo berkata, “Kekuatan dari sebuah keluarga, seperti juga kekuatan dari tentara, terletak pada kesetiaan pada satu dengan yang lain.” (Esther Idayanti)
Ada yang Salah dengan Karakter Anda Bila Kesempatan Mengontrol Kesetiaan Anda

Penulis : Esther Idayanti