.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Lima Cara Menghentikan Rasa Bersalah dan Memaafkan Diri Sendiri


Rasa bersalah bisa jadi salah satu perasaan yang bisa melemahkan dan memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi pikiran manusia dengan hal negatif. Perasaan ini bisa terus berkembang sampai pada titik di mana susah untuk di atur, menciptakan mental yang akan mencegah Anda untuk mencapai tujuan, mengejar mimpi dan menjadi yang Anda inginkan.

Rasa bersalah juga merupakan salah satu emosi yang mudah menjadi salah paham, dimana banyak sekali penelitian yang membuktikan hal tersebut. Lalu apa pengaruh dari rasa bersalah, dan langkah apa yang bisa di lakukan untuk berhenti merasa bersalah?

1. Mengingat Bahwa Otak Merupakan Benda yang Terpisah dari Pikiran
Ini bisa di jelaskan dengan fakta bahwa otak Anda ada sebagai benda yang terpisah dari pikiran, arti nya Anda tidak akan bisa mengendalikan sepenuh nya reaksi emosional terhadap peristiwa tertentu.

Dalam hal ini, amat penting untuk mengerti bahwa semua pemicu emosional di proses pada area otak yang di kenal dengan nama sistem limbic, yang di dorong oleh keinginan sementara dan keinginan untuk memuaskan hal tertentu. Jadi ketika Anda merasa bersalah, Anda memberikan tenaga pada bagian otak tersebut dan mengijinkan diri Anda sendiri untuk memuaskan diri melakukan hal yang lebih dari tanggung jawab Anda.

Penting sekali untuk di ingat, saat mengatur secara perlahan reaksi Anda terhadap pemicu emosional akan lebih baik daripada pasrah pada keinginan dan perasaan sesaat. Salah satu opsi terbaik adalah dengan mengunakan teknik yang di sebut mind-mapping, yang membuat gambaran mengenai jalur pikiran Anda pada setiap waktu.

Kepopuleran nya sebagai alat pembantu dalam bisnis, juga memiliki keuntungan lebih bagi Anda untuk pemetaan pemikiran Anda menjadi lebih teratur dan membantu Anda merencanakan terhadap reaksi tertentu yang bisa melemahkan, dan memicu emosional.
2. Belajar Berkonsultasi Pada Diri Anda Sendiri Sebagai Teman Baik
Jika Anda mengalami kesulitan untuk mencapai suatu tujuan (seperti diet), akan sangat mudah untuk merasa bersalah, menyesal dan reaksi emosional terhadap kegagalan. Anda bisa menghindari hal ini dengan membawa pemikiran Anda menjadi netral terhadap situasi tersebut, dan membayangkan diri Anda sebagai teman dekat atau keluarga yang sedang berjuang untuk tetap fokus pada hal yang ingin mereka capai.

Hal ini akan merubah pandangan Anda, jadi daripada fokus pada emosi, Anda akan bisa memberikan berbagai saran dan nasihat serta solusi terhadap masalah tersebut.

Daripada memarahi atau memaksa mereka merasa bersalah terhadap kegagalan tersebut, Anda justru lebih fokus dengan menganalisa situasi dan memberikan dukungan untuk bangkit kembali dari rintangan sementara. Dengan mengambarkan situasi tersebut dan menantang pandangan Anda, Anda bisa menjadi penasihat bagi diri sendiri dan menghilangkan dampak negatif dari rasa bersalah.

3. Belajar dari Kesalahan dan Menerima Kegagalan Tersebut
Anak - anak jauh lebih gigih dan tidak merasa takut belajar berbagai hal baru. Ketika belajar berjalan dan mengembangkan kemampuan akademis mereka, otak mereka tidak mampu untuk menciptakan rasa bersalah dan terfokus untuk mencapai satu tujuan.

Karena itu, anak - anak menganggap bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar dan belajar dari kesalahan dengan dukungan dari orang lain.

Saat menjadi semakin dewasa dan kehilangan halangan, Anda akan mulai takut akan kegagalan dan menjadi tenggelam pada rasa bersalah ketika tidak berhasil menyelesaikan tujuan yang penting. Secara tidak sadar Anda mengijinkan perasaa negatif terhadap kegagalan untuk mencegah Anda mencoba kembali, yang kemudian menjadi perputaran jahat dari rasa bersalah, depresi dan kegelisahan.

Jika Anda bisa lebih fokus pada pembelajaran dari setiap kegagalan dan mengunakannya sebagai pengalaman di usaha berikut nya, Anda akan memiliki kesempatan untuk lebih sukses dan menghilangkan rasa bersalah yang mempengaruhi kejiwaan Anda.

4. Belajar untuk Berkata Tidak daripada Menerimanya Sebagai Kewajiban
Fakta nya ada beberapa tugas kecil dan aktifitas dalam hidup yang Anda lakukan. Mulai dari mengunjungi mertua hingga belanja makanan, tugas - tugas biasa ini di lakukan bukan karena Anda menyukai nya, namun karena penting dalam kehidupan sehari - hari dan penting dalam interaksi dengan orang lain.

Penting sekali untuk memisahkan antara melakukan hal yang penting bagi kehidupan dengan aktifitas sukarela yang Anda tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti nya, sebab jika tidak maka Anda bisa menghabiskan sepanjang waktu Anda merasa bersalah atau melakukan nya di luar kewajiban.

Jika Anda bisa memisahkan kedua hal tersebut dan berkata tidak pada setiap ajakan yang tidak menarik minat Anda, Anda akan memiliki hidup yang lebih baik tanpa memiliki beban akibat rasa bersalah.

Berlatih melakukan hal ini bisa membantu untuk mencegah Anda merasakan bahwa Anda sudah berlaku atau berkata kasar.

5. Belajar Untuk Memaafkan Diri Sendiri dengan Memperbaiki Kesalahan
Jika Anda berhasil menghentikan perasaan bersalah dan mengatur reaksi emosional Anda terhadap kegagalan dan kesulitan, maka Anda harus belajar untuk memaafkan diri sendiri.

Meski terlihat mudah saat mengecewakan diri sendiri, Anda harus belajar untuk memaafkan kesalahan di mana Anda mengecewakan orang yang Anda sayangi. Memang sulit, tapi Anda harus bertanya pada diri Anda sendiri siapa yang mendapatkan manfaat dari sikap terus merasakan kesedihan, rasa bersalah, dan ketidakmampuan?
Jawaban nya adalah tidak ada, karena ini akan menciptakan skenario di mana Anda tidak mampu menebus semua kesalahan Anda dan memperbaiki kesalahan yang telah menyakiti orang - orang di sekitar Anda. Penebusan ini adalah satu - satu nya cara yang bisa membantu Anda untuk bangkit kembali, dan hanya bisa di lalui jika Anda memaafkan kesalahan Anda dan percaya pada kemampuan Anda untuk memperbaiki nya.

Unik nya, bagian dari otak yang berhubungan dengan tekad menjadi lebih kuat ketika Anda percaya dan berkeinginan ntuk menyelesaikan sesuatu, dan memaafkan diri sendiri adalah langkah pertama menuju perkembangan daya pikir tersebut.


Penulis : Susana Young
image : www.themuse.com