.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Dapatkah Kita Berbahagia Tanpa Syarat?


Semua orang ingin berbahagia, dan bila ditanya apa yang menyebabkan mereka bisa berbahagia, jawabannya berbeda-beda.  Ada yang berkata, “Saya bahagia bila ia menikah denganku dan kita akan bahagia selamanya.”  Yang lain berkata, “Saya bahagia bila saya punya rumah, walaupun kecil.”  Ada juga, “Saya bahagia sekali bila anak saya menjadi anak yang saleh,” dan “Saya akan bahagia sekali kalau cita-cita saya tercapai... pasangan saya kembali ... saya sembuh...” dll.

Mungkinkah kita berbahagia tanpa kata “kalau”?  Dapatkah kita berbahagia tanpa syarat? Bisakah kita berbahagia tanpa menggantungkan kebahagiaan itu pada seseorang atau sesuatu? Jawabannya: bisa!

Kita berbahagia bila kita menggantungkan hidup sepenuhnya pada Tuhan, karena kita akan melihat Tuhan bekerja dan terlibat dalam kehidupan kita.

Kita berbahagia bahkan ketika kita berduka cita, karena kita sadar bahwa dunia tidak bisa memenuhi kerinduan kita yang terdalam. sehingga kita terdorong untuk mencari Tuhan.

Kita berbahagia bila kita bisa menikmati indahnya memberi, karena orang yang murah hati tidak merasa kekurangan, sebaliknya ia selalu merasa berlebih karena itu ia berbagi.

Kita berbahagia bila kita menjadi seseorang yang rendah hati dan lemah lembut. karena kita tidak mudah terprovokasi. Kita percaya bahwa Tuhan akan mengadili pada saat-Nya.

Kita berbahagia bila kita menjadi seseorang yang membawa damai, karena berarti kita telah memiliki kedamaian itu dari dalam diri, tidak perlu mencarinya di luar.
Kita berbahagia bila kita dianggap aneh, kuno, diejek atau disingkirkan karena hubungan kita dengan Tuhan, atau memegang prinsip kebenaran-Nya. Karena Tuhan yang melihat semuanya itu akan memberi upah atas kesetiaan kita (EI)

Bahagia Yang Sejati Adalah Dari Dalam Diri (William Arthur Ward) 

Penulis : Esther Idayanti


Bookmark Artikel Inspirasi Lainnya dapat dilihat di
-http://www.disiniajatempatnya.com/p/inspirasi-hidup.html