.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Lima Cara Untuk Mencegah Persaingan Pada Anak-Anak Anda


Skenario yang biasa dialami bagi orangtua dengan jumlah anak lebih dari satu: "Mereka bermain bersama dengan gembira selama 10 menit dan kemudian mulai bertengkar hebat. Sampai-sampai seisi rumah ikut berteriak satu sama lain."

Saat anak-anak bertengkar, semua anggota keluarga terganggu. Saat mendengar, "Punyaku!", "Bukan, ini punyaku!", atau "Sana kamu!", reaksi orangtua adalah berteriak, "Sudah!" atau "Mau dikasih tahu berapa kali sih!"
Banyak alasan mengapa anak-anak bertengkar. Tetapi ada alasan yang baik dibalik pertengkaran anak, yaitu mereka perlu belajar sesuatu.

Apa Yang Mungkin Dipelajari Anak-anak Dari Pertengkaran?

Posisi anak-anak dalam pohon keluarga adalah mereka ada di sisi cabang yang sama, yang berarti status mereka dalam peraturan keluarga pun sama. Hubungan persaudaraan merupakan kesempatan pertama anak untuk belajar tentang dan mempersiapkan hubungan jangka panjang.
Anak-anak mengajarkan satu sama lain tentang saling memberi dan menerima, walaupun mereka tidak mau. Mereka berlatih bagaimana cara mencintai seseorang, walaupun mereka tidak suka dengan apa yang orang itu lakukan. Anak-anak terus-menerus belajar tentang toleransi, kesabaran, kebaik-hatian, dan terutama pemecahan masalah.
Cara Untuk Membantu Mencegah Persaingan
Kebanyakan orangtua ingin menghentikan pertengkaran. Cobalah untuk mengubah fokus Anda dari menghentikan pertengkaran, yang mengajarkan keahlian berharga, menjadi menghentikan persaingan. Persaingan dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada anak-anak. Berikut beberapa kiat untuk melakukan perubahan.

1. Jangan Menjadi Hakim
Kebanyakan orangtua berpikir menjadi hakim adalah bagian dari tugas mereka. Masalahnya adalah anak-anak tidak belajar bagaimana cara memecahkan masalah mereka sendiri. Saat orangtua memutuskan siapa yang salah dan benar dan apa yang harus dilakukan setelah itu, salah satu anak akan tetap marah, dan yang lain merasa sebagai pemenang. Mereka tidak bekerja sama untuk melatih kemampuan memecahkan masalah yang dibutuhkan untuk menjadi sukses dalam hidup.

2. Menjadi Fasilitator
Agar anak-anak berada dalam satu team, Anda perlu untuk membantu memfasilitasi dan membimbing mereka memecahkan permasalahan dari pertengkaran mereka sendiri. Anda melakukannya dengan mengajar anak-anak Anda bagaimana mengekspresikan perasaan yang memotivasi perjuangan di tempat pertama. Masukan pertanyaan yang sama untuk kedua anak-anak sampai mendapat solusi. Contohnya:

Kenapa Wati marah ke Ali? Dan Ali kenapa marah ke Wati?
Coba Wati beri Bunda 3 ide supaya kalian bisa berbaikan. Ali juga, apa 3 ide kamu untuk berbaikan?

3. Menjelaskan Bahwa Kita Tidak Menyakiti Orang Yang Kita Sayang
Karena pemikiran anak-anak belum dewasa, cara terbaik menegakkan peraturan adalah membawanya ke hal yang lebih jauh. Ini mungkin terdengar seperti "Yang satu terluka karena kecelakaan. Yang satu lagi terluka karena menggunakan anggota tubuhnya untuk berkelahi. Yang mana yang melanggar peraturan rumah?"

Ketika anak ketahuan berkelahi fisik, anak merasa marah. Anda dapat mengatakan, "Bunda juga bisa marah kalau kehilangan waktu nonton tv karena berkelahi." Atau "Ayah akan merasa marah dan sakit jika ada yang memukul ayah dan tidak dapat bermain." Karena jika Anda menuntut anak untuk tidak marah, Anda dan anak hanya akan adu kekuatan. Anda harus menentukan posisi Anda di akhir sebagai pengingat kalau sesama anggota keluarga harus saling menyayangi.
4. Jangan Membanding-Bandingkan Anak
Membanding-bandingkan anak akan membuat mereka merasa tidak dihargai dan dicintai. Tidak akan membuat mereka makin bersemangat untuk berusaha agar lebih baik lagi. Beberapa anak akan meningkatkan perseteruan mereka karena merasa dibanding-bandingkan dengan saudaranya. Sedangkan beberapa anak lain akan menelan perasaan itu, menyimpan perasaan benci dan perasaan bahwa dirinya tidak berharga.

5. Fokus Pada Masing-Masing Bakat Anak
Setiap anak berhak dan butuh untuk dipandang sebagai seseorang yang spesial, dengan kemampuan dan bakat yang unik. Bantulah anak-anak Anda membangun kepercayaan diri dengan menggunakan "pujian khusus," bukan pujian umum, karena anda fokus pada bakat uniknya.

Penulis : Susana