.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Iman Hanya dapat Terlihat dalam Hati


Dalam penerbangan ke Surabaya minggu lalu ada sedikit “turbulence” akibat cuaca buruk.  Penumpang semua duduk di kursi mengenakan sabuk pengaman dengan tenang. Tidak ada satupun yang pergi ke kokpit untuk memastikan bahwa pilot masih ada di sana, dan ia tidak tertidur atau bermain kartu. Kita tidak bisa melihat pilot, tapi kita percaya saja bahwa ia bekerja sebaik-baiknya menghadapi “turbulence”. Herannya, kalau ada “turbulence” atau masalah dalam kehidupan, kadang kita bertanya-tanya apakah Tuhan masih di sana dan tidak tertidur.  Kita ragu, apakah Ia masih “bekerja”/ mengusahakan yang terbaik untuk kita. Sama-sama tidak terlihat, kita bisa percaya pada pilot tetapi mempertanyakan Tuhan!  Ini sebenarnya tidak “fair” buat Tuhan.

Dalam dunia, kita bergantung pada apa yang kita lihat. Mau memesan makanan, lihat gambar di menu. Mau beli barang online, lihat gambarnya terlebih dahulu. Mau dijodohkan, minta fotonya dikirim dulu. Melihat sangat penting untuk urusan sehari-hari di dunia. Tetapi, dalam urusan iman ternyata tidak demikian. Iman artinya percaya saja, walaupun tidak melihat.
Ada bahayanya kalau kita hidup hanya berdasarkan apa yang kita lihat, karena kadang yang terlihat saat ini memang suram. Kita melihat penyakit yang diderita saat ini, pasangan yang pergi belum juga kembali, tagihan yang belum terbayar, dll.  Dengan mata jasmani, kita hanya bisa melihat SAAT INI. Namun dengan iman kita melihat ke MASA DEPAN, percaya bahwa ada hal yang baik akan terjadi.  Dari mana kekuatan kita untuk melihat ke masa depan bila saat ini begitu suram? Satu-satunya sumber adalah percaya pada janji-Nya yang tertulis dalam Kitab-Nya. Tuhan bisa dipercaya dan diandalkan. Pertanyaannya, apakah Anda berani memercayakan diri pada-Nya? (EI)

Iman Adalah Melihat Terang Dengan Hatimu, Ketika Apa yang Dilihat Oleh Matamu Adalah Kegelapan Semata

Penulis : Esther Idayanti