.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Empat Hal yang Menghancurkan Pernikahan Anda Tanpa Anda Sadari


Sekarang ini banyak yang mencari apa penyebab utama perceraian. Beberapa dengan cepat menyebut teknologi sementara yang lain menyalahkan masalah anak atau kesuburan. Para pakar mengatakan pornografi, stress pekerjaan dan masalah keuangan sebagai penyebab banyaknya perceraian. Tapi kenyataannya, hancurnya pernikahan bukan karena alasan-alasan diatas. Penyebab utama perceraian adalah pasangan itu sendiri. Berikut empat hal yang kita lakukan yang dapat menghancurkan pernikahan tanpa kita sadari.

Tidak Berusaha Maksimal
Kita lebih menonton film daripada membaca buku. Kita setuju berubah dari kebiasaan buruk. Tapi seminggu kemudian saat kita kembali berada di titik awal, Kita tidak mau komitmen. Kita mengharapkan pasangan yang berubah, bekerja keras dan berkorban. Kita mau pernikahan berhasil tanpa bekerja. Sedihnya, kita mau hidup yang mudah tanpa usaha.
Kita Tidak Sabar
Kita mau semuanya serba instant atau selesai dalam semalam. Jika saja ada yang menjual tentang penyelesaian masalah pernikahan ready stock, pasti kita beli saat itu juga, karena kita tidak mau menunggu lama. Kita membayangkan pasangan turun berat badannya 10kg, jadi koki handal, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, menghasilkan lebih banyak uang, mencukupi segala kebutuhan, dan membaca pikirkan kita di tempat tidur. Kalau ada yang membuat sakit hati, kita menuntut perubahan instant daripada menjalani proses yang ada. Semua harapan kita itulah yang sebenarnya menyabotase segala usaha karena hal itu konyol untuk dicapai. Kita lebih mengharapkan hasil yang cepat dan tak bercela dibandingkan yang lambat tapi pasti.

Menghindari Konflik
Kita lebih memilih untuk menghindari daripada membicarakannya. Jika memungkinkan untuk berdiskusi, kita mengarahkan pembicaraan ke arah lain karena kita tidak mau resiko menjadi lebih parah lagi. Kita tidak pernah mendiskusikan hal-hal pelik, seperti tentang seks atau masalah keuangan. Kita lebih seperti berbisik pada perasaan kita setahun sekali, saat Valentine's Day, lewat makan malam dan kado, karena itu hal yang memang sepatutnya dilakukan. Kita meyakinkan diri bahwa jika kita mengungkapkan apa yang sebenarnya mengganggu kita, kita akan berakhir dengan adu argumen yang hebat. Jadi daripada begitu lebih baik kita menahan diri satu sama lain, menguburnya dalam-dalam.

Benci Mengakui Kelemahan
Kita ini sombong, tidak mau mengecewakan orang dan takut membayangkan orang lain berkata "Sudah kubilang" tentang laki-laki yang dianggap mereka pecundang atau tentang perempuan yang mereka suruh kita "kenal dulu baik-baik" sebelum kita bergegas menikahinya. Mengakui adanya masalah dalam pernikahan akan lebih menakutkan jika kita sendiri adalah produk dari orangtua yang bercerai. Belum lagi ketakutan akan hal ini dapat merusak kehidupan anak dengan kenyataan bahwa "ayah bunda sedang bermasalah." Jadi kita bekerja keras bersama, membesarkan anak-anak, berlibur, menjalankan usaha yang sukses demi tampilan hidup yang menakjubkan. Tapi kenyataannya, kita diam-diam membunuh pernikahan kita dengan menyenangkan orang lain.

Jadi apa yang dapat kita lakukan? Bagaimana cara kita menjaga diri dari hal yang menggagalkan komitmen "hingga maut memisahkan"?

Jawabnya adalah kita mencoba.
Kita kembali dalam permainan, menyadari akan kerja keras yang menanti. Kita berhenti menyakiti satu sama lain, dan menunjukkan pada pasangan bahwa kita mencintai dan menghargai mereka daripada berasumsi kalau mereka sudah tahu tentang hal itu. Kita menutup mulut disaat mudah untuk menyalahkan dan lebih menghujani pasangan dengan kebaikan dan rasa hormat. Kita bersentuhan—bergandengan tangan dan saling mengusap punggung dan mengingat kembali kesenangan saat berkencan dan saling menggoda.
Kita lebih memilih untuk jujur—walaupun itu menyakitkan. Kita minta maaf sebelum mengajukan pertanyaan sulit dan memunculkan topik yang ada di sekitar. Kita berdoa. Kita saling mendengarkan, membuat tujuan dan menyiapkan rencana. Kita menyadari bahwa perubahan tidak terjadi dalam semalam, dan pernikahan berkembang bukan hanya dengan memperingati ulang tahun pernikahan saja. Kita memberi ruang dan jarak kepada pasangan untuk menjadi rentan dan bertumbuh. Kita menghargai langkah-langkah kecil dan merayakan upaya-upaya besar.

Kita bekerja keras dan memilih untuk bersabar. Kita merangkul konflik dan mengakui kelemahan diri.

Kita Merenungkan Janji Pernikahan yang Dibuat Bersama dan Mengingat Semuanya Demi Pernikahan yang Lebih Baik dan Tidak Akan Puas Hingga Berhasil.

Penulis : Susana


Bookmark Artikel Inspirasi Lainnya dapat dilihat di
-http://www.disiniajatempatnya.com/p/inspirasi-hidup.html