.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Arti Kebebasan yang Sebenarnya


Channel News Asia memuat berita tentang rohaniwan yang menghadap pemerintah Singapura sebelum konser Madonna bulan lalu. Mereka berkata bahwa beberapa bagian dari konser itu menyinggung kelompok tertentu. Di sisi satunya, Megan Barker berkata bahwa itu adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Saya tidak tahu bagaimana akhirnya dengan konser Madonna, tapi ini yang saya pelajari:

Demokrasi Atau Degradasi?
Kebebasan diagungkan oleh manusia modern karena asas demokrasi. Sekelompok orang Belanda bersepeda  tanpa sehelai benang pun, katanya itu kebebasan. Di San Fransisco sekelompok pria berparade hanya pakai cawat lalu berciuman di jalan, katanya itu demokrasi. Di konser/video musik, lambang-lambang keagamaan dilecehkan, katanya kebebasan berekspresi. Itu bukan kebebasan, tapi liar, tanpa norma.

Kebebasan Kita vs. Hak Mereka
Kita punya kebebasan, tetapi orang lain juga berhak atas rasa nyaman dan aman. Kita bebas pasang musik sekeras yang kita inginkan, tetapi tetangga berhak untuk tidur nyenyak. Kebebasan kita dibatasi oleh hak orang lain. Seorang filsuf, Imannuel Kant berkata ada tanggung jawab moral dalam kebebasan, jadi seseorang perlu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”
Kebebasan Moral
Kant melanjutkan, kebebasan termasuk kemampuan menahan diri untuk tidak berbuat sesuatu. Orang bebas ke Kalijodo atau spa plus-plus, tetapi ia sulit keluar/bebas dari perselingkuhan untuk menjalani hidup yang benar. Ini bukan kebebasan. Orang yang bebas adalah orang yang tidak terikat oleh keinginannya sendiri. “Aku sangat menginginkan sesuatu, tapi aku sanggup mengalahkan keinginanku,” itulah kebebasan sejati. Kebebasan adalah kemampuan untuk mengarahkan semua keinginan dalam jalur Tuhan. Karena itu kebebasan yang sejati terjadi bila manusia kembali pada penciptanya (EI)

Kebebasan Moral Bukanlah Hak untuk Melakukan Apa yang Anda Inginkan, Melainkan Kekuatan untuk Melakukan Apa yang Benar (IBLP)

Penulis : Esther Idayanti