.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Tujuh Fakta Mengejutkan Tentang Sejarah Pengobatan

(Photo by DeAgostini/Getty Images)

Siapapun pasti menginginkan agar bisa hidup sehat sepanjang waktu karena siapa sih yang ingin sakit? Kesehatan adalah hal yang paling tidak ternilai, banyak orang yang melakukan penelitian bagaimana menyembuhkan suatu penyakit, termasuk nenek moyang kita.

Sejak dulu, nenek moyang kita sudah berjuang melawan penyakit, untuk meredakan rasa sakit bahkan menunda kematian. Dalam sejarah pengobatan yang di rangkum para nenek moyang kita merupakan pengetahuan yang tidak ternilai yang hingga saat ini masih terus bertambah setiap waktu.

Pada buku "Sejarah Pengobatan dalam 100 Fakta" (The History of Medicine in 100 Facts), Caroline Rance sang penulis buku menuliskan 7 kisah menarik dan mengejutkan dari sejarah panjang pengobatan.

1. Beberapa Dokter Di Awal Jaman Dahulu Adalah Wanita
Saqqara adalah sebuah tempat besar dimana para arkelog berkumpul, jarak nya sekitar 20 mil ke arah selatan dari Cairo yang sekarang.

Sekitar 5000 tahun yang lalu itu adalah makam bagi para penghuni kota Mesir kuno Memphis dan menjadi salah satu peninggalan tertua yang masih ada di dunia - Pyramid Djoser.

Salah satu makam mengungkap gambaran mengenai Merit Ptah, dokter wanita pertama yang diketahui dunia. Dia diperkirakan hidup pada masa 2700 sebelum masehi dan tulisan (gambar kuno) pada makam menjelaskan bahwa dia adalah Dokter Kepala (semacam dokter yang memiliki wewenang di atas dokter lain).

Hanya itu yang di ketahui mengenai karir nya, tapi dari tulisan tersebut mengungkapkan bahwa bukanlah sebuah hal yang mustahil bagi seorang wanita untuk memiliki kedudukan yang tinggi di dunia pengobatan pada jaman Mesir kuno.

200 tahun kemudian terungkap dokter wanita lain yaitu Peseshet, hal tersebut diabadikan di sebuah monumen di makam anak nya Akhet-Hetep (alias Akhethetep) seorang pendeta tinggi.

Peseshet memegang jabatan sebagai "pengawas para dokter wanita", mengungkapkan bahwa dokter wanita tidak hanya ada di masa tertentu. Peseshet sendiri adalah direktur yang bertanggung jawab dalam pelatihan dan organisasi.

Walau kita tidak bisa lagi mereka ulang kegiatan harian Merit Ptah dan Peseshet, dokter wanita diperkirakan sangat di hormati masyarakat Mesir kuno.
2. Operasi Katarak Mungkin Dilakukan Di Abad Keenam Sebelum Masehi.

Salah satu buku tertua mengenai pengobatan adalah Sushruta Samhita yang di tulis mengunakan bahasa sanserketa di India. Dari tanggal sementara yang di ketahui (hal ini disebabkan karena versi asli tidak di ketemukan dan baru di ketahui dari tulisan lanjutan) bahwa hal ini di ketahui berada pada 600 sebelum masehi.

Sushruta diperkirakan sebagai seorang dokter dan guru yang bekerja di utara kota Benaris di india (sekarang bernama Varanasi di negara bagian Uttar Pradesh). Samhita adalah buku yang di tulis oleh Sushruta yang merupakan kompilasi berbagai pengetahuan, memberikan informasi secara detil mengenai pengobatan, teknik operasi, ilmu farmasi dan perawatan pasien.

 (Photo By DEA/A DAGLI ORTI/De Agostini/Getty Images)

Sushruta memberikan nasihat kepada murid nya bahwa seberapa banyak teori yang mereka baca, mereka tidak lah mampu untuk menyembuhkan penyakit sampai mereka memiliki pengalaman praktek.

Latihan pengoperasian dilakukan pada kulit buah, dimana para murid di ajarkan teknik mengeluarkan benda dari tubuh dengan cara mengeluarkan biji dari dalam buah. Mereka juga berlatih pada hewan yang sudah mati dan tas kulit yang di isi dengan air, sebelum di berikan pasien sebenernya.

Dari semua keterangan mengenai operasi, Sushruta Samshita mencatat mengenai operasi katarak. Pasien di perintahkan untuk melihat ujung hidung nya saat operasi sementara dokter bedah, membuka kelopak mata dengan jempol dan telunjuk, mengunakan alat seperti jarum untuk menusuk bola mata dari samping.

Susu ibu kemudian di taburkan di sekitar nya dan bagian luar mata di basuh dengan obat herbal. Dokter bedah mengunakan alat tersebut untuk memotong lensa mata yang berkabut (putih/abu-abu) sampai lensa mata sudah tidak berkabut lagi.

Selama masa penyembuhan pasien di ingatkan untuk tidak batuk, bersin, bersendawa atau berbagai hal lain yang bisa memberikan tekanan pada mata. Apabila operasi berhasil dilakukan, pasien akan bisa melihat kembali meskipun mungkin tidak terlalu fokus.

3. Pohon Yang Mampu Mengobati Penyakit Kudis

Saat perjalanan pertama Jacques Cartier menuju Stadacona (Kota Quebec saat ini) di tahun 1534, Cartier menculik dua orang penduduk asli, Dom Agaya dan Taignoagny, membawa mereka kembali ke perancis sebagai bukti bahwa mereka berhasil menemukan wilayah baru.

Meskipun kedua penduduk yang di culik sudah di kembalikan ke asalnya, para penduduk asli sudah hilang kepercayaan terhadap Cartier, yang mereka sebut sebagai seorang penghianat dan penipu.

Cartier dan anak buah nya serta penduduk asli terkena penyakit aneh yang saat ini kita sebut kudis, penyakit ini sangat mengerikan yang menyebabkan gusi menjadi bengkak, kulit kemerahan, hingga daging terkelupas. Mereka terkena kudis yang di ketahui karena kekurangan vitamin C, hanya saja Cartier tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Walau para penduduk asli tidak lagi percaya pada Cartier, namun Dom Agaya anak kepala suku memberikan pengobatan dengan cara menyeduh sebuah daun dari pohon yang mereka sebut Anneda.

Cartier dan anak buah nya tidak percaya begitu saja karena mereka berfikir Dom Agaya hendak meracuni mereka, namun beberapa orang nekat mencoba karena bagi mereka lebih baik mati di racun daripada mati perlahan.

Mereka yang sudah meminum obat tersebut kembali sehat saat meminum obat tersebut. Mengetahui bahwa penyakit tersebut bisa disembuhkan, para anak buah Cartier dengan tidak sabar meminta obat tersebut hingga mengorbankan satu pohon.

Identitas dari pohon Anneda ini masih belum di ketahui, namun ada beberapa kandidat termasuk pohon cedar putih dan cemara putih. Apapun identitas pohon tersebut, yang pasti mampu menyembuhkan para awak kapal hingga sehat kembali.

Cartier kemudian menculik kembali Dom Agaya dan sembilan orang lain nya, dengan janji akan mempertemukan mereka dengan sang raja, tapi para penduduk asli yang di culik kemudian di tahan dan tidak pernah kembali. Cartier mengatakan bahwa mereka hidup enak di Perancis.

Sayangnya informasi mengenai penyakit kudis ini tidak pernah disebarkan, dan penyakit tersebut terus memakan korban para pelaut lebih dari 200 tahun.

5. Jika Anda Ingin Obat Penyembuh Segala Penyakit, Coba Theriac

Menjadi seorang raja di masa lalu amatlah berbahaya, karena akan ada saja seseorang yang merencanakan pembunuhan pada raja. Menurut legenda, Mithrades VI dari Pontus (dekat pantai laut hitam di Turkey) meminum racun dengan dosis yang terus di tambah dengan tujuan tubuh nya bisa tahan terhadap racun.

Mithradates juga terkenal dengan berbagai percobaan racun pada tahanan kerajaan, yang menghasilkan mithridate, sebuah obat yang mengabungkan semua penawar racun dalam satu formula.

Sayang nya hal tersebut tidak berpengaruh terhadap tentara Roma, ketika Mithradates di kalahkan oleh pemimpin tentara Pompey di tahun 66 sebelum masehi, resep tersebut kemudian tiba di Roma.

Dokter dari raja Nero kemudian mengembangkan nya menjadi 64 komposisi bahan, yang dikenal dengan nama theriac. Sebagian besar bahan merupakan dari tumbuh-tumbuhan (termasuk ganja), tapi daging ular viper termasuk salah satu bahan di dalamnya.

Meski banyak yang meragukan di awal, theriac kemudian menjadi obat yang digunakan sebagai hadiah (yang mahal) yang bisa menyembuhkan semua penyakit. Pada abad ke 12 Venice menjadi pelopor ekspor dan zat tersebut memiliki popularitas menyaingi bahan obat dari Eropa, Arab dan Cina.

Pada tahun 1745, keuntungan penjualan nya menyusut, ketika William Heberden mempertanyakan kemanjuran dari obat tersebut dan mengatakan bahwa bangsa Roma terlalu membesarkan cerita Mithradates untuk mencari keuntungan. Meski begitu, theriac masih dapat di temukan di toko obat eropa hingga abad ke 19.

5. Obat Penenang Yang Membantu Penderita Kanker Di Awal Abad Ke 19

Kan Aiya, seorang wanita tua berumur 60 tahun, sudah kehilangan banyak orang yang di cintai nya karena kanker payudara. Dia menyaksikan saudari perempuan nya yang mati karena penyakit ini, jadi ketika sebuah tumor berkembang di payudara kiri nya dia sudah tahu akan nasib nya.

Beruntung bagi nya ada sedikit kesempatan untuk bertahan hidup yaitu melalui operasi, waktu itu tahun 1804 dan dia berada di tempat terbaik untuk melakukan operasi, pusat jepang.

Seishu Hanaoka (1760 - 1835) belajar pengobatan di Kyoto dan membuka praktek di kampung halaman nya Hirayama. Ia tertarik dengan obat penenang berdasarkan sebuah cerita di mana seorang ahli beda di cina Houa T'o yang mengembangkan sebuah obat yang mampu menghilangkan rasa sakit melalui tidur.

Hanaoka melakukan percobaan dengan formula yang sama dan menghasilkan Tsusensan, sebuah minuman. Di mana salah satu bahan nya mengandung tanaman Datura Metel atau di kenal dengan trompet iblis, monkshood, dan Angelica decursiva, di mana bahan - bahan tersebut mengandung zat aktif secara fisologi.

Tsusensan merupakan obat keras, di mana bila meminum nya secara asal maka kemungkinan besar bisa mengakibatkan kematian, tapi dengan dosis yang tepat bisa membuat pasien nya pingsan selama 6 hingga 24 jam, memberikan waktu yang cukup untuk melakukan operasi.

Pada 13 Oktober 1804, Hanaoka mengangkat tumor Kan Aiya selama dia berada dalam pengaruh obat penenang, berhasil mengoperasi lebih dari 150 penderita kanker payudara dan berbagai kondisi penyakit. Sayang nya, Kan Aiya meninggal pada tahun berikut nya karena penyakit nya, tapi tidak mengalami penderitaan yang menyangkut operasi payudara di barat.
6. Popularnya Lintah di Abad 19 di Eropa

Lintah sudah di gunakan dalam pengobatan selama ribuan tahun, bahkan hingga kini masih di manfaatkan sebagai pelancar aliran darah sehabis bedah rekonstruksi.

Namun kepopuleran lintah terjadi di awal abad ke 19, dimana Francois-Joseph-Victor Broussais (1772-1838) seorang dokter dari perancis mengatakan bahwa semua penyakit yang berasal dari peradangan bisa di sembuhkan dengan mengunakan lintah untuk menyedot darah.

Kepopularan penyembuhan mengunakan lintah ini kemudian membuat lintah di ekspor ke berbagai belahan dunia, lintah yang berasal di alam nyaris mengalami kepunahan, dan banyak nya peternakan lintah yang tumbuh.

Lintah memiliki keunggulan mengeluarkan darah di bandingkan mengunakan pisau bedah, karena darah yang keluar lebih bertahap dan bagi mereka yang memiliki badan lemah tidak terlalu syok. Akibat pemakaian lintah oleh pengikut Broussais di semua pengobatan, pasien tidak perlu melalui berbagai pengobatan yang bisa membuat mereka merasa tidak nyaman.

Pada tahun 1822, seorang ahli bedah dari Inggris bernama Rees Price menamakan sangui-section untuk terapi pengobatan melalui lintah.

7. Ahli Bedah Dari Uganda Yang Mengembangkan Teknik Cesar

Pada tahun 1884, pembedahan cesar bukan lah ide baru. Apabila di telusuri dari waktu kala Caesar memimpin, Roma saat itu membuat undang-undang untuk melakukan operasi cesar pada ibu yang memiliki kemungkinan kematian saat melahirkan.

Berabad-abad, berbagai laporan muncul mengenai operasi cesar yang berhasil menyelamatkan ibu dan anaknya, namun meskipun pengenalan penangkal infeksi dan penenang, operasi cesar hanya bisa digunakan sebagai alternatif terakhir.

Ahli bedah di Edinburgh terkejut ketika mendengar ceramah dari Robert Felkin, seorang dokter misionaris, mengenai sebuah operasi yang dia saksikan sendiri mengalami keberhasilan di sebuah kerajaan afrika di Bunyo Kitara 5 tahun sebelum nya.

 (Private Collection/Archives Charmet/Bridgeman Images)

Operasi tersebut, menurut Felkin, memiliki tujuan untuk menyelamatkan ibu dan anak. Sang ibu diberikan penenang dengan anggur pisang. Sang ahli bedah juga menggunakan anggur untuk mencuci semua peralatan bedah dan tangan nya, menandakan bahwa perlu nya kewaspadaan mengenai infeksi.

Ia (si ahli bedah) kemudian membuat irisan lurus ke bawah, melalui dinding perut dan sebagian dinding rahim, sebelum membuat lubang yang pas untuk keluar nya bayi. Operasi ini juga bermaksud untuk memindahkan ari-ari dan meremas rahim untuk membuat kontraksi.

Cara pengirisan juga berhasil dikembangkan: ahli bedah tersebut mengunakan 7 buah capitan untuk menyatukan luka yang terbuka, mengikat jadi satu dengan tali terbuat dari barkcloth. Dia kemudian memberikan lapisan tebal pasta yang terbuat dari obat herbal dan menutup nya dengan daun pisang sebagai pengganti perban.

Berdasarkan pernyataan Felkin, sang ibu dan bayi nya masih dalam kondisi sehat ketika dia meninggalkan desa tersebut 11 hari kemudian.

7 Fakta mengejutkan tentang sejarah pengobatan sudah kami berikan untuk Anda, semoga hal ini bisa menambah pengetahuan Anda mengenai sejarah pengobatan yang sudah berlangsung ribuan tahun, terima kasih telah membaca.

Penulis : Fung

sumber