.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Tiga Paradoks Yang Berlawanan Tapi Masuk Akal



Ketika saya tiba, tempat itu dijaga oleh tentara dan polisi dengan senapan laras panjang. Bukan di markas TNI, bukan juga di TKP, tetapi di sebuah tempat demo yang sangat ramai. Sebuah paradoks, dibutuhkan senjata untuk memastikan kedamaian. (Kami bersyukur pada pemda yang mengirimkan mereka). Dalam hidup ini ada paradoks yang sepertinya berlawanan, tetapi ternyata masuk akal:

Ketika Saya Memberi, Saya Akan Menerima
Orang takut memberi karena khawatir kehilangan atau kekurangan. Tetapi ternyata memberi adalah menebar benih, yang suatu saat akan Anda tuai hasilnya. Seorang petani kentang tidak akan memakan habis hasil tuaiannya, ia menyisihkan sebagian untuk menjadi bibit yang disebar di ladang. Kalau ia serakah dan memakan semuanya, maka tidak akan ada tuaian di masa mendatang. Ketika Anda menebar benih kasih, kebaikan, atau memberi waktu dan uang Anda, semua itu akan kembali pada Anda. Mungkin berupa hal yang sama, mungkin juga berupa kebahagiaan dan rasa syukur yang nilainya lebih dari sederetan angka.
Ketika Saya Menjadi Kecil, Maka Saya Menjadi Besar
Cara menjadi seseorang yang dihormati bukanlah dengan menyombongkan diri, mendominasi, atau memamerkan kekuasaan, melainkan dengan merendahkan diri, mendahulukan dan melayani orang lain. Orang akan merasa aman dan memberikan kepercayaan pada Anda, dan pengaruh Anda semakin lama semakin besar.

Ketika Saya Takut Mati, Saya Tidak Bisa Hidup
Orang berpikir nanti saja kalau sudah kakek nenek baru berpikir tentang surga, sekarang ia mau menikmati dunia dengan segala pesta pora dan kesenangannya. Tetapi justru orang yang tidak siap mati, ia tidak siap hidup. Kematian adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Karena itu hubungan Anda dengan Tuhan menentukan seberapa besar Anda bisa menikmati hidup Anda di dunia saat ini (EI).

Saya Temukan Paradoks, Kalau Anda Mencintai Hingga Terasa Sakit, Maka Tidak Ada Sakit Lagi, Tetapi Hanya Ada CInta Yang Lebih (Mother Teresa)