.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Perhatikan Empat Hal Ini Dalam Menghadapi Pertengkaran Dalam Keluarga


Ketika kuliah, saya tinggal di apartemen bersama kakak, dan di bawah apartemen kami tinggal pasangan muda dengan dua anak. Tiba-tiba di tengah malam kami dengar mereka bertengkar dengan berteriak, ada suara barang dilempar, dan tangisan. Bukan sekali itu saja. Saya berpikir, harusnya ada peraturan tentang pertengkaran demi kenyamanan hidup bertetangga, lebih lagi demi keluarga itu sendiri. Beberapa aturan dalam menghadapi konflik:

Saling Menghormati
Bahkan dalam pertengkaran, jangan menuduh motivasinya, mengeluarkan kata kasar, kritik tajam, atau merendahkan pasangan Anda.  Bila Anda di pihak yang benar pun, beri kesempatan pasangan untuk mundur tanpa dipermalukan. Anda tidak akan menang dengan cara “mengalahkan” pasangan, karena Anda berdua ada dalam satu tim!
Batasi Topiknya
Jangan sampai konflik gara-gara satu urusan melebar ke mana-mana. Bahas hal yang memang perlu dicari pemecahannya bersama. Dilarang mengungkit kesalahan masa lalu, dan jangan mendramatisir. Harus ada batas waktu supaya tidak berlarut-larut.

Jangan Bertengkar Di Depan Anak-Anak
Sebuah penelitian dari University of East Anglia menyatakan bahwa remaja yang pernah mengalami ketidakharmonisan saat kecil (orang tua saling bertengkar dengan suara keras, saling menyerang, atau kekerasan fisik) cenderung mengalami kesulitan belajar, kecemasan, depresi dan schizophrenia.  Bila Anda terlanjur bertengkar di hadapan mereka, Anda harus bernegosiasi dan berbaikan di hadapan mereka juga.

Kompromi Dan Mengalah
Ternyata pertengkaran bukan penyebab ketidakbahagiaan dalam pernikahan.  Bagaimana pasangan menangani konflik, itulah yang membut perbedaan. Kadang memang tidak ada kata sepakat, tetapi kita bisa menggandeng tangannya dan duduk berdampingan,  mulai kompromi dan saling mengalah (EI).

Setiap Orang Harus Cepat Untuk Mendengar, Tetapi Lambat Untuk Berbicara Dan Lambat Untuk Marah


Penulis : Esther Idayanti