.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Pentingnya Percaya Kepada Seorang Pemimpin


Zappos menjadi topik bahasan seru tahun 2013, ketika perusahaan ini menghilangkan posisi “boss” dan menggantikannya dengan struktur “self-managing” yang disebut Holacracy. Tidak ada birokrasi, tidak ada orang (manager, CEO) yang bisa memerintah dengan otoriter. Berhasil atau tidak? Belum bisa dilihat. Tapi saya rasa beberapa orang sangat senang bisa bekerja tanpa atasan. Mereka adalah orang-orang yang bermasalah dengan otoritas: sulit menerima perintah, tidak mau dikontrol, tidak menghormati atasan atau otoritas lain (orang tua, pemimpin agama dll). Akibatnya, mereka mengalami kesulitan di tempat kerja atau di organisasi manapun. Tidak sedikit yang bermasalah dalam pernikahan dan hubungan lainnya.
Konflik Masa Lalu
Ada orang-orang yang sulit tunduk pada otoritas karena saat kecil mereka pernah mengalami masalah dengan otoritas (orang tua, guru, dll). Contohnya orang tua yang menekan, pilih kasih, kejam, atau tidak bertanggung jawab. Kalau hal ini belum diselesaikan, “kebencian” terhadap otoritas akan ditransfer pada siapapun yang memberi mereka perintah. Satu-satunya obat adalah “the power of love,” yaitu mengampuni dan menunjukkan kasih pada otoritas yang pernah menyakiti kita.

Tak Ada Yang Sempurna
Ingatlah bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk atasan atau orangtua kita. Mereka berbuat banyak kesalahan. Tetapi kalau kita ingin punya karir yang lancar dan hubungan yang harmonis, kita harus belajar tunduk pada otoritas. Tunduk menguntungkan dan melindungi kita.

Otoritas Dari Atas
Tuhanlah yang membuat sistem otoritas supaya ada keteraturan. Tunduk pada otoritas menyatakan kepercayaan kita pada Tuhan, bahwa Ia yang akan memberi keadilan dan perlindungan bagi kita. Setiap orang yang berada di posisi otoritas akan bertanggung jawab pada-Nya

Tunduk Adalah Pernyataan Kasih Dan Rasa Hormat, Serta Kesediaan Mendedikasikan Diri Untuk Tujuan Yang Lebih Besar Dari Diri Sendiri (Esther Idayanti)

Penulis : Esther Idayanti