.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Ketika Budaya Berevolusi Dari "Budaya Karakter" Ke "Budaya Kepribadian"


Warren Susman, seorang sejarawan, mengatakan bahwa budaya mengalami perubahan. Di abad ke-19, buku-buku tentang pengembangan diri memuat kata-kata yang bernuansa karakter, seperti: kenegaraan, kewajiban, membangun, kehormatan, reputasi, moral, dan integritas. Tetapi kemudian, pada awal abad ke-20, masyarakat yang tadinya berorientasi pada produksi, berubah menjadi masyarakat konsumtif yang memicu perubahan budaya. Fokus dari  seseorang tidak lagi karakternya, melainkan kepribadiannya. Buku-buku pengembangan diri penuh dengan kata: mengagumkan, memesona, menarik, dominan, bersinar, energetik, dan kuat. Budaya “karakter” bergeser menjadi budaya “kepribadian”. Salah satu tokohnya adalah penulis Dale Carnegie, dengan bukunya “How to win Friends and Influence People.” Intinya, bagaimana membuat Anda tampil mengesankan di hadapan orang lain. Kepopuleran Holywood, sinetron, sosialita, dan dunia entertainmen membuat budaya “pesona” ini berkembang pesat.
Bedakan
Walaupun sulit, penting bagi kita untuk membedakan antara karakter dan kepribadian (personality) dalam penerimaan karyawan, memilih partner kerja sama, teman, hingga memilih calon pasangan hidup.  Kepribadian terlihat dalam sesaat, tetapi karakter dibuktikan dengan pilihan-pilihan hidupnya.

Bangun Dasarnya
Walaupun keduanya penting, tetapi membangun kepribadian yang menarik, tanpa dasar karakter yang terhormat, adalah seperti membangun rumah di atas pasir. Bila badai tiba, runtuhlah semua yang dibangun. Jadi, bila memuji anak Anda, puji karakternya, bukan kepribadiannya: “Kamu pandai vs. kamu berusaha sungguh-sungguh.” “Kamu populer sekali vs. kamu memerhatikan teman-temanmu.” Karakter, kata Theodore Roosevelt, dalam jangka panjang menjadi faktor penentu dalam kehidupan seseorang dan juga sebuah bangsa (EI)

Kepribadian Menarik Mata, Tetapi Karakter Menawan Hati

Penulis : Esther Idayanti