.::::::Disiniajatempatnya:::::.


Dengan Empat Hal ini Mengurangi Ketakutan Terror



Jakarta langsung sepi setelah guncangan bom Sarinah kemarin tanggal 14 Januari 2016, tidak sedikit yang ketakutan.

Perspektif
Teror bom memang mengerikan. Kematian, walaupun hanya 1 orang, sangat menyedihkan. Kita semua berduka. Tetapi bila Anda melihat dalam perspektif, kematian akibat terorisme di Indonesia dalam 10 tahun terakhir (2005-2015) berjumlah 30 orang dan kematian akibat merokok diperkirakan 2 juta orang. Ternyata, orang tidak takut merokok, tetapi takut mati karena bom, walaupun kemungkinannya hanya 1 dari antara 83 juta orang. Bila Anda takut, pikirkan hal ini dalam perspektif.

Bombardir
Seharian kita disuguhi berita pengeboman baik di TV, internet, WA dan BBM. Banyak teman posting foto-foto mengerikan para korban. Belum lama berselang kita baca pengeboman di Paris, lalu beberapa hari lalu di Turki, dan bom bunuh diri di Pakistan. Tetapi jarang ada liputan kematian karena rokok. Tidak heran orang menjadi ketakutan berlebihan karena banjir informasi yang negatif ini.
Jangan Takut
“Bangsa dan rakyat tidak boleh takut, tidak boleh kalah oleh aksi teror seperti ini,” kata Presiden Jokowi. Memang teroris membuat strategi supaya mereka terlihat kuat, penting dan ditakuti. Mereka senang masuk berita dengan posting mengerikan, karena ini adalah taktik psikologi dan politik. Tetapi bila mereka memang benar kuat, tidak perlu serangan kecil di sana sini untuk merebut kekuasaan. Indonesia tidak akan runtuh karena terorisme, dunia akan tetap menghargai demokrasi, kebebasan individu, toleransi beragama dan pemikiran rasional - hal-hal yang ditakuti para teroris. Merekalah yang ketakutan.

Perang Yang Sesungguhnya
Tidak realistis mengharapkan dunia ini aman seperti lagu John Lenon, “Imagine.” Sebenarnya, terorisme adalah perang antara kejahatan vs. kebajikan, kebencian vs. kasih. Pada akhirnya, kasih, pengampunan, harapan dan keberanian akan menang karena Tuhan berada di sisinya (EI)

Waktu Aku Takut, Aku Ini Percaya Kepada-MU

Penulis : Esther Idayanti