Renungan di Hari Ibu


“Hari Ibu” ditetapkan oleh Soekarno berdasarkan Kongres Perempuan tahun 1928 di Yogya.  Para perempuan ini memperjuangkan kemerdekaan dan pembangunan bangsa melalui kesehatan, perbagikan gizi, dll. Sebelumnya juga sudah ada berbagai perkumpulan perempuan yang dirintis oleh para pahlawan seperti RA Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien dll. Seperti apa profil perempuan Indonesia sejatinya?

Maria Walanda Maramis
Diulas dalam "Nederlandsche Zendeling Genootschap" sebagai perempuan teladan Minahasa yang memiliki bakat istimewa untuk mengerti berbagai pengetahuan dan mengembangkan daya pikirnya, sehingga lebih maju dari pada kaum pria. Maria mendirikan sekolah bagi perempuan, menyadari bahwa perempuan akan menjadi pendidik utama generasi masa depan bangsa. Selain itu Maria banyak menulis dan terlibat dalam politik untuk memperjuangkan perempuan agar bisa duduk dalam badan perwakilan rakyat “Minahasa Raad”. Maria tidak membiarkan dirinya dan kaumnya dipermainkan oleh takdir. Ia menerobos tembok dan mengejar kesempatan.
Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien dinikahkan dalam usia muda dengan Ibrahim Lamnga yang kemudian tewas dalam peperangan melawan Belanda. Ini membuatnya sangat marah. Cut Nyak Dhien kemudian dilamar oleh Teuku Umar. Awalnya ia menolak, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut berperang, Cut Nyak Dhien kemudian setuju menikahinya. Beberapa perempuan memiliki tempat ekstra, tidak hanya di dapur, tetapi juga di medan perang. Para suami, bebaskan isterimu untuk memenuhi panggilan hidupnya. Cut Nyak Dhien berpandangan sangat maju dan punya keberanian seorang pejuang sejati yang tidak takut pedang, darah dan kematian demi mengejar tujuan bangsa. Masih adakah jiwanya di perempuan Indonesia saat ini?

Kecantikan adalah sia-sia, perhiasan hanya bertahan sementara, tetapi perempuan yang berani memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dihargai oleh dunia(EI)

Kewajiban Berusaha Adalah Milik Kita. Hasil Adalah Milik Allah (Cut Nyak Dhien)

Penulis : Esther Idayanti